
Pertanyaan ‘Apakah
filsafat Jawa itu ada?’ jelas bukan merupakan pertanyaan yang remeh,
yang sederhana, melainkan justru merupakan satu pertanyaan yang boleh
jadi menggugat keyakinan pada banyak orang Jawa yang terlanjur
berkeyakinan dan bangga akan keyakinannya bahwa filsafat Jawa itu ada.
Tegasnya, pertanyaan itu pertanyaan yang eksistensial bagi filsafat Jawa
itu sendiri yang telah terlanjur dinyatakan keberadaannya. Keyakinan
mereka bahwa filsafat Jawa itu ada memang beralasan, seti-daknya
beberapa buku yang mengusung pemikiran-pemikiran Jawa telah diterbitkan
dengan diberi label ‘filsafat’ oleh penulisnya. Tetapi, pertanyaan yang
bernada kesangsian itu tidak cukup dijawab dengan menunjukkan
bukti-bukti keberadaan filsafat Jawa dalam bentuk buku dan berakhir
begitu saja. Bahwa keberadaan buku itu penting memang tak dapat
dipungkiri, tetapi lebih dari itu memang diperlukan penjelasan yang
rinci yang membuat orang mengerti bahwa filsafat Jawa memang layak dan
bahkan perlu ada. Ini yang hendak dijadikan tujuan keseluruhan
penelitian ini.
Untuk itu berikut ini akan dikemukakan beberapa orientasi
komprehensif untuk mengetahui duduk persoalan di balik ketidak-jelasan
arti filsafat itu sendiri.
1. Filsafat: Dunia yang selalu Berubah
Ditinjau dari segi sejarah kelahirannya, filsafat Barat yang sangat
populer dewasa ini di Indonesia (terbukti dengan semakin banyaknya judul
buku-buku filsafat yang diterjemahkan dari para penulis asing ataupun
ditulis oleh para penulis Indonesia) merupakan pemberontakan terhadap
cara berpikir kuna di Yunani Purba kira-kira 26 abad SM. Cara berpikir
kuna yang dimaksud adalah cara berpikir yang menempatkan
mythos (Yunani) yang dalam bahasa Inggris disebut dengan
myth yang diberi definisi nominal dengan
“fable,” “tale,” “legend,” “talk,” “speech,” “conversation,” “rumor,” “anything delivered by word of mouth”
(Angeles, 1981: 182). Semua itu dipandang sebagai acuan (sumber)
berpikir dan bahkan diterima sebagai ukuran kebenaran menyangkut apa pun
pertanyaan orang Yunani Kuna tentang alam semesta dan bahkan keberadaan
dirinya sendiri. Dengan demikian, dasar kebenaran akan segala sesuatu
bukan terletak pada diri manusia sendiri sebagai makhluk yang berpikir
dan dengannya mencari tahu melalui kemampuan-kemampuan manusiawi di
dalam dirinya. Cara berpikir demikian dinilai lemah karena mengandalkan
keyakinan, tidak bersifat kritis, dan tidak membuka kemungkinan tafsir
lain yang sebenar-nya dapat mengantarkan pada level kebenaran yang lebih
tinggi dari yang sudah ada dan yang sudah berlaku sekali pun.
Pemberontakan yang dilanjutkan dengan penolakan terhadap
penjelasan-penjelasan yang bersifat mitologis diakui menjadi tonggak
perubahan berpikir Yunani Kuno yang berdampak amat besar kepada
peradaban Barat secara keseluruhan. Dengan tumbangnya dominasi
mythos
atas kenyataan hidup sehari-hari memunculkan paradigma berpikir baru
yang bertumpu pada penga-matan inderawi dan penalaran yang bersifat
kefilsafatan yang selanjutnya disebut
logos (kata [tuturan, bahasa] maupun juga rasio). Jadi,
logos melampaui rasio atau akal budi tetapi tidak terlepas darinya (Bertens, 1992: 16-18).
Yang dimaksudkan dengan penalaran kefilsafatan di atas adalah bahwa
terhadap hasil pengamatannya orang-orang Yunani dalam jumlah yang masih
amat sedikit itu berusaha untuk menemukan apa yang disebut
arkhe/asas/
prinsip dasar/ sesuatu yang hakiki di balik penampakan suatu benda
melalui akal budinya sendiri (Bertens, 1992: 26-32). Untuk berpikir
demikian sudah barang tentu diperlukan kemampuan melakukan abstraksi
pada diri yang bersang-kutan dan dengan itu cenderung akan dihasilkan
pemikiran yang spekulatif, tak terbatas, karena memang berusaha
melampaui yang fisik atau yang nampak.
Sejarah filsafat Barat juga membuktikan bahwa kelahiran seorang
filsuf tidaklah mudah, dalam arti bahwa diperlukan kemampuan kerohanian
yang luar biasa (akal budi) dan ketajaman melihat persoalan dan
mengajukan perta-nyaan mendasar yang dengannya persoalan makin dikaji
lebih mendalam dan menuju arah yang lebih benar. Lebih dari semua itu
seorang filsuf dituntut untuk mampu mengemukakan argumentasi yang tidak
saja masuk akal tetapi melampaui argumentasi yang telah pernah ada
berkaitan dengan sesuatu persoalan yang sama, misalnya. Dengan semua
ini hendak digaris bawahi bahwa filsafat tidak dapat dilepaskan dari
arti penting rasio tetapi melebihinya.
Perkembangan terakhir dari filsafat Barat menunjukkan kecenderungan
yang jauh berbeda daripada tahapan-tahapan yang mendahuluinya. Jika di
masa Yunani perhatian lebih tertuju pada persoalan bahan dasar alam
semesta (kosmologis, kosmosentris) (Windelband I, 1958: 27-65), maka
sejak masa Sokrates, terutama, perhatian besar diberikan kepada manusia
(antroposentris, antropologis) (halaman 66-98), menggantikan alam
(kosmos). Pergeseran perhatian filsuf lagi-lagi terjadi di abad
Pertengahan ketika gereja menunjuk-kan dominasinya atas kehidupan. Pada
saat ini, manusia yang semula mendu-duki posisi sentral sebagai pusat
dunia, digantikan oleh kemaha-kuasaan Tuhan (teosentris, teologis) atas
semua yang ada, termasuk diri manusia (halaman 210-262). Pada masa
modern, mulai abad ke-17 yang populer dengan sebu-tan
Renaissance
(kelahiran kembali), manusia kembali “ditemukan” (Windelband II, 1958:
352-377) hingga akhirnya persoalan bergeser lagi di abad ke-20 ini
kepada persoalan yang tak dapat dilepaskan dari seluruh keberadaan
manusia, yakni mempersoalkan bahasa (filsafat bahasa,
linguistic-analysis).
Jika pada mulanya filsafat terus berkutat pada pertanyaan-pertanyaan
metafisis yang berpretensi untuk mengetahui berbagai hal yang melampaui
fisik, maka sejalan dengan ini filsafat pun bergeser dari kecenderungan
kepada mem-pertanyakan hal-hal yang metafisik menuju satu pendirian yang
justru menen-tang kecenderungan lama itu dengan menyatakan bahwa
analisis bahasa (
linguis-tic-analysis) merupakan metode
yang tepat bagi filsafat karena semua perma-salahan filsafat dapat
diselesaikan dengan analisis bahasa. (Bagus, 1992: 1994). Pernyataan
Ludwig Wittgenstein berikut ini mencerminkan perkembangan baru dalam hal
peranan dan fungsi filsafat bagi kehidupan, yaitu:
Alle Philosophie ist Sprachkritik (setiap filsafat adalah kritik atas bahasa) (Bertens, 1990: 17).
Hal penting yang selanjutnya patut dikemukakan adalah bahwa dengan
perubahan-perubahan tersebut di atas terlihat cara pandang filsafat yang
bersifat kritis. Sikap ini bukan saja ditujukan kepada pihak lain di
luar dirinya, tetapi juga kepada dirinya sendiri. Hal lain yang perlu
digaris-bawahi pula dari uraian di atas adalah bahwa filsafat Barat
menempatkan unsur rasional seba-gai bagian penting dalam kegiatan yang
bersifat kefilsafatan. Hal ini penting sebagai dasar untuk memahami
argumen tentang mengapa filsafat Jawa cenderung dipertanyakan ketika
istilah ‘filsafat’ dilekatkan kepada dirinya. Karena itu, tinjauan
ringkas tentang pengertian di balik istilah filsafat penting.
2. Kembali kepada Istilah dan Pengertian Filsafat
Dalam dunia filsafat, kata ‘filsafat’ yang merupakan kata benda itu
me-ngandung pengertian teknis atau definisi tertentu, sama halnya dengan
sesu-atu istilah dalam suatu bidang ilmu-ilmu lainnya. Untuk
memperoleh gam-baran dan perbandingan yang cukup, berikut ini akan akan
dilakukan tinjauan atas keberadaan filsafat sebagai ‘kata’ atau pun
‘istilah’ dengan mengguna-kan definisi kamus dan asal-usul kata filsafat
di dalam dunia filsafat itu sendiri.
2.1. Definisi Berdasarkan Kamus bahasa
Berikut ini dikemukakan beberapa temuan sehubungan dengan istilah apa yang digunakan di dalam 3 kamus bahasa, yaitu
Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1984: 280, 282), Kamus
Indonesia-Inggris: An Indonesia-English Dictionary (Echols dan Shadily, 1990: 162-165) dan
Wörter-buch Indonesisch-Deutsch (Krause, 1985: 89-90) sekedar untuk memberikan gambaran sekalipun cukup terbatas.
Tabel 1: Kata-kata yang Sekeluarga dengan ‘filsafat’ dan kelas katanya
| Jenis Kata Kamus |
Kata Benda |
Kata Kerja |
Kata Sifat |
Kata Ganti (Pofesi) |
| K. Umum Bahasa Indonesia Poerwadarminta |
falsafat falsafah filsafat |
berfalsafat – – |
falsafi
– filosofis |
ahli falsafat – filsuf |
| K. Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain |
falsafah filsafat filosofi |
berfalsafah |
filosofis |
filosof filsuf |
| Indonesia-Inggris Echols-Shadily |
filosofi falsafah falsafat filsafah filsafat |
– berfalsafah berfalsafat |
filosofis falsafi filsafati |
filsuf failasuf filusuf |
| Inggris-Indonesia Echols-Shadily |
filsafat |
berfilsafat |
kefilsafatan filosofis |
filsuf |
| Indonesisch-Deutsch Krause |
falsafat filosofi |
– |
– |
filsuf |
| Jerman- Indonesia Heuken SJ |
filsafat |
berfilsafat |
falsafi |
ahli filsafat filsuf ahli pikir |
Dari tabel tersebut di atas dengan mudah dilihat betapa beragamnya
istilah yang dipakai dalam bahasa Indonesia untuk satu kata yang dewasa
ini populer disebut dengan ‘filsafat.’ Kerancuan segera dapat
dibayangkan apalagi jika ditelusur lebih jauh lagi kepada arti yang
diberikan kepada masing-masing kata yang didefinisikan atau kata-kata
yang mendefinisikan. Berikut ini akan dipaparkan bukti kerancuan
(ketumpang-tindihan) pengertian dari berbagai kamus bahasa.
Tabel 2: Kerancuan Makna Kata ‘filsafat’ pada Kamus Bahasa Indonesia
| Varian Kata |
Sumber |
Sinonim dengan |
Catatan (Makna, padanan kata) |
| Filsafat |
|
falsafah |
Makna rancu karena ‘filsafat’ (bersifat kritis) berbeda secara mendasar dari ‘fal-safah’ (dogmatis-ideologis) |
| Filsafah |
Indonesia-Inggris Echols-Shadily |
filsafat |
Diberi padanan kata dalam bahasa Ing-gris: ‘philosophy,’ ‘ideology’
Kata ‘filsafah’ menambah perbendaha-raan kata bagi filsafat, tetapi berpotensi menambah keruwetan peristilahan.
Makna rancu karena menyamakan dua hal yang berbeda; ‘philosophy’ bersifat terbuka, sedangkan ‘ideology’ tertutup |
| Falsafat |
Poerwadarminta |
falsafah |
Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal
budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dsb dapat segala yang ada
dalam alam semesta atau pun mengenai kebenaran dan arti ‘adanya’ sesuatu |
| falsafah |
Badudu-Zain |
Filsafat, filosofi |
Makna rancu karena ‘filsafat’ dan filosofi’ berbeda secara mendasar dari ‘falsafah’
Filsafat yang sebenarnya sinonim dengan filosofi ternyata diberi arti berbeda. ‘Filsa-fat’: ‘pengetahuan dan pemikiran tentang kebenaran dan tentang arti keberadaan sesuatu;’ sedangkan ‘filosofi’: pandangan tentang kehidupan (bagaimana kita meli-hat kehidupan ini) |
| Filosofi filsafat |
Poerwadarminta |
falsafat |
Penggunaan dan penyepadanan arti ‘filsafat’
dengan ‘filosofi’ masih dapat diterima, tetapi menyamakan keduanya
dengan ‘falsafat’ berpotensi menambah kerancuan karena terdapat
kecenderu-ngan pada kamus-kamus yang ada seo-lah-olah akhiran /h/ dapat
dipertukarkan begitu saja dengan /t/; sehingga ‘falsafat’ dapat dibaca
sebagai ‘falsafah’ padahal arti keduanya berbeda. |
Berikut ini dipaparkan kerancuan yang terjadi pada kata ‘filsuf’ dari
kamus-kamus yang dijadikan sebagai obyek pengamatan. Dari kamus-kamus
yang diamati, ternyata kerancuan hanya terjadi pada Kamus Umum Bahasa
Indonesia yang ditulis Prof. Dr. J. S. Badudu dan Prof. Sutan Mohammad
Zain (1994: 403) dan Kamus Jerman-Indonesia oleh Adolf Heuken SJ (1987:
370).
Tabel 3: Kerancuan Makna Kata ‘filsuf’ pada Kamus Bahasa Indonesia
| Varian Kata |
Sumber |
Sinonim dengan |
Catatan (Makana |
| filsuf |
Badudu-Zain |
filosof |
Makna rancu karena keduanya diberi arti yang sama, yaitu ‘ahli pikir, ahli ilmu filsa-fat,’ padahal ‘ahli pikir” (setara dengan fil-suf) berbeda dengan ahli ilmu filsafat (me-reka yang menguasai pemikiran-pemikiran para filsuf) |
| Ahli filsafat |
Heuken SJ |
filsuf ahli pikir |
Diberi sepadankan dengan Der Philosoph; Makna rancu karena ahli filsafat disama-kan dengan filsuf (lihat penjelasan di atas) |
Hal-hal penting yang perlu digaris-bawahi disini berdasarkan ketiga
tabel di atas adalah bahwa: (a) perisitilahan yang berkaitan dengan
‘filsafat’ sesuai dengan kelas katanya masing-masing cenderung
berlebih-lebihan. Karena itu, jika semua itu pada akhirnya menimbulkan
kebingungan, maka perlu dilakukan penyederhanaan, (b) Kerancuan
arti/makna kata masih banyak ditemukan, misalnya ‘filsafat’ diseartikan
dengan ‘falsafah’ dan ‘filsafat’ tidak dibedakan dari ‘ideologi,’
sebagai contoh, (c) Tampaknya, untuk menghin-darkan kerancuan penggunaan
istilah yang berdampak pada pemahaman arti kata, perlu dilakukan
pereduksian dalam hal kata-kata yang telah digunakan selama ini agar di
masa depan kesimpang-siuran dapat dikurangi.
Tanpa bermaksud “memiskinkan” kekayaan bahasa Indonesia,
kesalah-kaprahan peristilahan di dalam dunia filsafat perlu diluruskan
dengan menga-jukan alternatif-alternatif berikut ini untuk mengurangi
kekacauan pemahaman yang berpotensi melahirkan kebingungan di dalam diri
pembaca kamus dan orang yang sedang mempelajari filsafat itu sendiri,
menyangkut persoalan istilah mana yang sebaiknya dipakai, apakah ada
perbedaan mendasar satu dengan lainnya.
Tabel 4: Usulan Penyederhanaan Peristilahan Filsafat dan Kelas Katanya
| Varian Kata |
Kata Benda |
Kata Kerja |
Kata Sifat |
Kata Ganti (Profesi) |
| falsafah falsafat filsafat filosofi |
filsafat filosofi |
|
|
filsuf filosof |
berfalsafat
berfalsafat
berfilsafat |
|
berfilsafat |
|
|
falsafi
filosofis
filsafati
kefilsafatan |
|
|
filsafati kefilsafatan filosofis |
|
ahli falsafat
filsuf
filosof
failasuf filusuf
ahli filsafat
ahli pikir |
|
|
|
filsuf
filosof
ahli pikir
ahli filsafat (ha-nya berlaku un-tuk mereka yang menguasai filsa-fat sebagai ilmu) |
Penyederhanaan di atas sebenarnya masih dapat dilakukan lebih lanjut,
mislanya: untuk menunjuk pada ‘pelaku’ disini lebih baik digunakan
istilah ‘filsuf’ daripada ‘filosof,’ atau pun ‘ahli pikir,’ walaupun
ketiga istilah itu boleh saja digunakan karena artinya pada dasarnya
sama. Pertimbangannya adalah menyangkut kelaziman, ekonomi bahasa dan
variasi pembentukan kata yang jauh lebih lengkap. ‘Ahli Filsafat” tidak
dapat disamakan dengan ‘ahli pikir’ dan ‘filsuf’ karena mengandung
pengertian yang berbeda: seorang filsuf/ ahlipikir belum tentu ahli
filsafat, walaupun beberapa di antaranya ada yang demikian; ahli
filsafat juga belum tentu seorang filsuf karena ia “hanya” menguasai
pemikiran-pemikiran yang ada di dalam sejarah filsafat tertentu.
Padahal, kategori sebagai seorang filsuf adalah sejauh seseorang diakui
oleh para ahli filsafat dan filsuf lain bahwa dirinya telah menghasilkan
suatu pemikiran filosofis dalam hal tertentu.
Kata
‘filsafat,’ dengan argumen yang sama dengan di atas, lebih baik digunakan daripada
‘filosofi’ atau
‘pemikiran’ karena tidak semua pemikiran adalah filsafat.
‘Falsafah’
tidak dapat disamakan dengan filsafat karena ia mengacu pada pandangan
hidup pribadi (orang atau bangsa) yang cenderung tidak dapat diganggu
gugat, padahal semangat/ jiwa filsafat justru ‘kritis’ (tidak
‘dogmatis’).
Kata
‘filsafati’ sebenarnya lebih baik digunakan daripada
‘filosofis’ atau
‘bersifat kefilafatan’
tetapi ketiga kata tersebut cukup diminati oleh penulis-penulis bukui
filsafat dalam edisi bahasa Indonesia sehingga satu dengan yang lainnya
masih mungkin untuk dipertukarkan, sesuai dengan pilihan dan
pertimbangan masing-masing penulis. Kata
‘falsafati’ lebih baik
tidak diguna-kan dalam arti filsafati karena cenderung berkaitan dengan
falsafah dengan pengertian sebagaimana telah dinyatakan, demikian juga
dengan
‘falsafi.’
Kata
‘berfilsafat’ dengan sendirinya seharusnya digunakan
untuk meng-gantikan ‘berfalsafah’ atau ‘berfalsafat’ dan tidak dapat
disama-artikan dengan kegiatan ‘berpikir’ yang umum dilakukan oleh kita
semua, kecuali dengan memenuhi kriteria tertentu sebagaimana dipaparkan
di bagian berikut ini.
2. Definisi Kamus Filsafat
Mengingat kata filsafat mengandung pengertian teknis, maka definisi
kata tersebut dengan berdasarkan kamus filsafat amatlah penting. Dengan
cara ini kita dapat mengetahui adakah per-bedaan yang (cukup) mendasar
dalam pemahaman umum berkaitan dengan keberadaan dan penggunaan istilah
itu.
Kata (istilah) tersebut dalam
Dictionary of Philosophy yang ditulis Peter A. Angeles (1981: 211) berasal dari bahasa Yunani
“philosophia” yang jika dilihat secara etimologis istilah tersebut berasal dari dua kata, yaitu
“philos” yang berarti juga
“love” atau
“philia” yang berarti
“friendship” (persahabatan), “
affection” (kasih-sayang, cinta)
“affinity for” (simpati kepada),
“attraction toward” (ketertarikan pada) dan
“sophos” yang berarti
“a sage” (seorang yang arif, cerdas),
“a wise one” (seorang yang bijaksana) atau
“Sophia” yang ber-arti
“wisdom” (kebijaksanaan),
“knowledge” (pengetahuan),
“skill” (kecakapan, kepandaian),
“practical wisdom of experinece” (kebijaksanaan atau pengala-man yang berguna),
“intelligence”
(intelegensi, kecerdasan). Seringkali pe-ngertian dasar yang dikenakan
pada filsafat bersifat reduktif, dalam arti hanya mengatakan sebagian
dari keseluruhan, seperti misalnya ‘cinta akan kebijak-sanaan.’ Padahal,
sebagaimana kita ketahui, di balik kata ‘kebijaksanaan’,
(sophos)
itu masih terdapat arti-arti lain yang dilekatkan kepadanya, di
anta-ranya: pengetahuan, intelegensi dan pengalaman yang berguna.
Angeles lebih lanjut menyatakan bahwa jumlah arti dari kata tersebut sejumlah filsuf-filsuf itu sendiri,
“philosophy has as many meanings as philosophers enganing in it.” Walaupun demikian, dikemukakan juga penger-tian-pengertian dasar yang terkandung di dalamnya, yaitu: (1)
the speculative attempt to present a systematic and complete view of all reality (upaya spe-kulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas), (2
) the attempt to describe the ultimate and real nature of reality (upaya untuk melukiskan hakikat akhir/ tertinggi dan dasar yang nyata dari realitas), (3)
the attempt to determine the limits and scope of our know-ledge: its source, nature, validity, and value (upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan: sumber, hakikat keabsahan dan nilainya), (4)
the critical inquiry into the presuppositions and claims made by the various fields of knowledge
(penialaian kritis atas pengandaian-pengandaian dan
pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan),
(5)
the dicipline which tries to help you “see” what you say and to say what you “see”
(disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang anda
katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat.) (1981: 211)
Sejalan dengan Angeles, Lorens Bagus dalam
Kamus Filsafat
(1996: 243) menyatakan bahwa di balik arti harfiah filsafat itu, yaitu ‘
cinta akan kebi-jaksanaan,’ terkandung suatu maksud atau pengertian
bahwa manusia sesung-guhnya tidak pernah sampai pada pengertian yang
bersifat menyeluruh dan sempurna tentang segala sesuatu yang dimaksudkan
dengan ‘kebijaksanaan’ tadi. Karena cintanya itu, maka ‘semangat’ yang
seharusnya tertanam di dalam diri manusia adalah bahwa ia harus secara
terus-menerus mengejar-nya. Jika ditinjau dari sisi lain, yakni dari
segi ‘isi pengertian’ (apa yang dilakukannya), maka sebagaimana yang
dinyatakan Bagus, filsafat adalah suatu
“…pengetahuan yang dimiliki
rasio manusia yang menembusi dasar-dasar terakhir dari segala sesuatu.
Filsafat menggumuli seluruh realitas, tetapi teristimewa eksistensi dan
tujuan manusia.”
Rumusan Bagus tersebut dalam khasanah filsafat Barat ditempatkan
sebagai salah satu di antara banyak rumusan tentangnya, sebagaimana akan
diperlihatkan melalui beberapa contoh definisi yang sesungguhnya amat
ba-nyak di dalam khasanah filsafat Barat sejak dahulu hingga sekarang
berikut ini.
C. Beberapa Definisi Filsafat Menurut para Filsuf
Berikut ini dikutipkan beberapa saja dari definisi filsafat yang
banyak ditemukan di berbagai buku filsafat. Pada kesempatan ini
definisi-definisi yang diperlukan (sekedar sebagai ilustrasi akan adanya
pergeseran dan pema-haman yang berbeda-beda) diambil dari buku
Filsafat Para Filsuf Berfilsafat yang ditulis oleh Gerard Beekman dan R. A. Rivai (Jakarta: 1984: 14-24):
1. Bertrand Russell: “filsafat adalah tidak lebih
dari usaha untuk …. menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir, tidak
secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan pada kehidupan
sehari-hari dan bahkan dalam ilmu pengetahuan, akan tetapi secara
kritis, dalam arti kata: setelah segala sesuatunya diselidiki
problema-problema apa yang dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan
yang demikian dan setelah kita menjadi sadar dari segala kekaburan dan
kebingungan, yang menjadi dasar bagi pengertian-pengertian kita
sehari-hari…”
2. R. Beerling: “Filsafat adalah
pemikiran-pemikiran yang bebas, diilhami oleh rasio, mengenai segala
sesuatu yang timbul dari pengalaman-pengalaman.”
3. Alfred Ayer: “Filsafat adalah
pencarian akan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang sudah semenjak
zaman Yunani dalam hal-hal pokok tetap sama saja. Pertanyaan-pertanyaan
mengenai apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana kita dapat
mengetahuinya; hal-hal apa yang ada dan bagaimana hubungannya satu sama
lain. Selanjutnya mempermasalahkan pendapat-pendapat yang telah
diterima, mencari ukuran-ukuran dan menguji nilainya; apakah
asumsi-asumsi dari pemikiran itu dan selanjtnya memeriksa apakah hal-hal
itu berlaku.”
4. Corn Verhoeven: “Filsafat adalah meradikalkan keheranan ke segala jurusan.”
5. R. Kwant: “Berfilsafat yang sebenarnya adalah menguji secara kritis akan kesemestian sesuatu yang dianggap sudah semestinya.”
Dari definisi-definisi tersebut kita mengetahui bahwa masing-masing
filsuf memebrikan definisi yang berbeda-beda dalam rangka untuk
menje-laskan filsafat itu apa. Artinya, bahwa tidak ada satu pun
definisi yang harus dianggap benar dan paling tepat untuk mehyatakan
filsafat itu apa. Tampak-nya status sebagai seorang filsuf memberi
keleluasaan baginya untuk menya-takan pendapat tentangnya.
Sekalipun beragamnya pendapat tersebut, keberdaan filsafat barat
tidak lepas dari upaya untuk membrikan jawaban aas pertanyaan terakhir
yang mendasar, yang didasarkan pada pemikiran rasional yang bebas, dan
bertumpu pada semangat kesangsian yang radikal atas segala sesuatu, yang
tidak lain dimaksudkan untuk mendapatkan kebenaran yang senantiasa
baru.
Sebagai bahan renungan perlu kita simak definisi lain dari
Bertnand Russell yang
kiranya akan dapat menambah wawasan dan menimbulkan tambahan
kepercayaan diri bagi eksistensi Filsafat Jawa di kemudian hari:
“Filsafat…adalah
sesuatu yang terletak di antara teologi dan ilmu pengeta-huan eksakta.
Seperti teologi, maka filsafat ini terdiri dari spekulasi-spekulasi
tentang hal-hal, mengenai apa sampai sekarang belum dapat diperoleh
pe-ngetahuan yang definitif; akan tetapi dengan ilmu pengetahuan eksakta
ia mempunyai persamaan, bahwa ia lebih mengutamakan daya pikir manusia…
Antara teologi dan ilmu eksakta terbentang semacam daerah tak bertuan,
yang terbuka bagi serangan dari kedua belah pihak; dan daerah tak
bertuan ini adalah lapangan dari filsafat….” (Beekman dan R. A. Rivai, 1984: 22)
D. Definisi Filsafat dan Persoalan di Baliknya
Definisi-definisi yang telah dipaparkan di atas kiranya cukup dapat
memberikan gambaran secara ringkas tentang apa dan bagaimana filsafat
itu. Sekalipun definisi yang diturunkan dari kamus cenderung bersifat
nominal atau sinonim semata, namun demikian kita telah memperoleh
gambaran pasti tentang kata manakah yang lazim digunakan oleh para
penyusun kamus dan oleh siapa pun yang berkepentingan dengan filsafat.
Jika kita runut kembali, pendefinisian
‘filsafat’ yang diturunkan dari kata-kata yang membentuknya (etimologis), yaitu terdiri dari
philos/ philia (cinta) dan
sophos/ Sophia
(kebijaksanaan) sehingga diartikan sebagai ‘cinta akan kebijaksanaan,’
termasuk ke dalam ‘definisi nominal.’ Ditinjau dari susudt pandang
logika, pendefinisian demikian (definisi nominal) belum memenuhi syarat
sebagai sebuah definisi yang benar dan ideal (definisi hakiki).
Walau-pun demikian, cara ini masih sering digunakan dengan maksud
sekedar untuk mengenali arti dasarnya. Alasannya karena definisi ini
dapat memberikan ilustrasi sederhana tentang awal kelahiran filsafat dan
semangat yang dahulu mendasarinya.
Titik-tolak pendefinisian yang kedua adalah definisi yang didasarkan
pada pemahaman dari masing-masing filsuf itu sendiri. Definisi yang
demikian cenderung menghasilkan jumlah definisi yang banyak (sekali),
bahkan dapat sebanyak jumlah filsuf itu sendiri. Dasar pendefinisian
seperti ini memang akan menjadi tak lebih dari ‘pendapat’ yang dalam
terminologi Plato bersifat ‘subyektif’ belaka atau hanya berada dalam
tataran masing-masing individu (filsuf). Persoalannya memang bukan hanya
sebatas itu.
Filsafat itu sendiri memang berakar pada kebebasan, pada rasionalitas
sedang kebebasan itu berada di dalam diri masing-masing filsuf, dan
hakekat rasionalitas itu adalah beragam (pluriformitas) dan bukan
seragam (monolitik). Watak dan semangat filsafat itu sendiri, yang
dengannya filsafat lahir, tumbuh dan berkembang ibarat panah yang
melesat dari busurnya, semakin cepat dan senantiasa berada dalam gerak
yang meninggalkan “induk”-nya (busur itu). Kalau kemudian yang terjadi
di dalam dunia Barat, filsafat cenderung penuh diwarnai oleh “pergolakan
pemikiran,” penolakan,” “pembaruan,” mau tidak mau, suka tidak suka,
maka keadaan ini sebagai konsekuensi logis, sebagai “buah” dari
rasionalitas dan kebebasan yang menjadi hakekat dirinya yang
berjalin-berkelindaan yang karenanya filsafat menemukan kehidupan
“abadi”-nya yang senantiasa dalam ketegangan yang dinamis dan secara
kualitas mengalami kemajuan atau pun peningkatan dalam hal kesesuaian
pandangan yang dihasilkannya dengan kondisi kekinian.
Filsafat sebagai ilmu yang terus berkembang dan dijiwai oleh semangat
kebebasan yang didasarkan pada rasionalitas yang kritis (tidak
dogmatis) dan refleksif tidak mungkin menentukan sesuatu definisi
‘filsafat’ sebagai satu-satunya yang paling benar. Sebab jika ini yang
terjadi, maka filsafat berarti telah “membiarkan dirinya’ terjebak dalam
pantangan yang telah dicanang-kannya sendiri, yaitu telah bersikap
dogmatis terhadap dirinya sendiri. Akibat-nya, definisi-definisi dari
para filsuf kurang lebih harus dilihat sebagai satu pendapat yang
subyektif (didasarkan pada pemahamannya sendiri) dan terse-rah kita
apakah hendak menerima definisi yang mana, atau bahkan membuat definisi
sendiri, menambah definisi yang sudah ada.
Yang terpenting dalam rangka untuk memperoleh pemahaman konseptual
tentang filsafat adalah untuk kembali pada lima pengertian dasar yang
disampaikan Angeles di atas dan juga penjelasan ringkas yang disampaikan
Bagus. Perdsoalan lain yang tampaknya menimbulkan kesulitan pemahaman
adalah kerana filsafat itu sendiri bersifat multidimensional, sementara
di sisi lain, sebuah definisi dituntut untuk memberikan batasan
pengertian secara tepat, jelas, dan singkat. (Labur, 1983: 21) maka,
pertanya-annya adalah “mampukah sedikit kata yang digunakan dalam
definisi itu dapat mengabstraksikan dinamika perubahan yang belum jelas
akan menjadi seperti apa?” Itu masalahnya.
Akhirnya, definisi, sekalipun banyak kelemahan dan senantiasa tidak
dapat tepat menarik batasan tentang filsafat itu apa, sebaiknya diterima
dan disikapi sebagai satu upaya untuk mengenali filsafat itu apa pada
tahap awal.
E. Argumen Filosofis Bagi Keberadaan Filsafat Jawa
Sejalan dengan pembicaraan tentang pertanyaan ada-tidaknya filsafat
jawa di awal tulisan ini, beberapa argumen akan disampaikan berikut ini
de-ngan menggunakan berbagai sudut pandang yang dimaksudkan agar dapat
menemukan dasar berpijak yang lebih komprehensif dalam hal ini:
1. Sudut Pandang Definisi
Dari berbagai definisi, terutama dari definisi khusus dari kamus
filsafat, telah kita ketahui bahwa berdasarkan contoh-contoh definisi
para filsuf Barat (Russel, Ayer, dll) terlihat bahwa sejauh ini filsafat
didefinisikan secara subyektif oleh masing-masig filsuf; sehingga
kesannya adalah bahwa
tidak ada tolok ukur tertentu yang
harus disepakati bersama secara pasti dalam hal ini, kecuali bahwa
filsafat itu berkaitan erta dengan suatu pemikiran rasional (khususnya
di Barat) dalam rangka untuk memperoleh pemahaman akan diri, hidup dan
kehidupannya dan menarik makna bagi adanya dalam keselu-ruhan. Melalui
penggunaan rasio yang dibarengi dengan semangat mengga-pai realitas
terdalam, yang paling dasar, kenyataan tertinggi yang seolah-olah tak
terbagi lagi itu filsafat “mengabdikan” dirinya bagi manusia.
Terlihat juga di dalam semangat filsafat Barat tersebut bahwa
akal budi sebenarnya bersifat
‘instrumental’
sebab yang sesungguhnya menjadi “tujuan akhir” dari kesibukan para
filsuf dan siapa pun yang berfilsafat adalah hasil tertinggi yang di
satu pihak ingin dicapainya, tetapi di lain pihak tak pernah sepenuhnya
ada dalam “genggaman”-nya. Tujuan dari hasil akhir itu adalah “sesuatu”
yang dibayangkannya sebagai “hal” yang seolah-olah mendasar, yang
fundamental, yang “sepertinya” menjadi inti atau hakekat sesuatu dan
sama sekali bukan demi tujuan rasio itu sendiri,
an sich (pada
dirinya sendiri). Dengan cara ini, maka filsafat bukan hanya milik
Barat, tetapi milik manusia di belahan bumi manapun sejauh berkemauan
untuk merenungkan makna eksistensi dan tujuan hidupnya, termasuk orang
jawa, Sunda, Batak, Minang, Badui, dst., dst.
Bahwa Barat menggunakan potensi manusiawi berupa akal budi untuk
mengetahui berbagai hal dengan didukung pengamatan empirik, adalah
karena persoalan tradisi Barat saja, dalam arti bahwa Barat memang
berakar pada cara berpikir Yunani Kuna. Tetapi, Barat adalah Barat dan
Timur adalah Timur, dua kultur yang mempunyai latar-belakang budaya yang
berlainan. Oleh karena itu, masing-masing perlu dipahami dengan
berdasarkan segala keberadaan dirinya. Keberadaan tidak harus diartikan
sebagai keburukan, tetapi begitulah kenyataan dirinya, itulah
keunikannya. Di sana akan senan-tiasa dapat ditemukan suatu keotentikan
sebagai yang “satu.” Tentang hal ini, Lorens Bagus dalam bukunya,
Metafisika (1991: 86), telah menulis:
“Salah satu ciri umum dari
yang-ada ialah bahwa yang-ada itu benar. Yang-ada memiliki kebenaran
sebagai sifat transendental. Tiga serangkai, yakni satu, benar dan baik selalu ditemukan dalam pemahaman mengenai yang-ada.”
Karena itu, Timur tidak harus menjadi Barat, pun sebaliknya. Jika Barat mengandalkan daya rasionalitas, maka Timur punya
cara pendekatan yang (sama sekali)
berbeda,
yakni bukan lagi mengandalkan akal budi, melainkan intuisi, hati,
sehingga wajar saja jika bukan pengamatan yang penting baginya,
melainkan ketajaman rasa untuk mengetahui dan memahami sega-lanya.
Perbedaan ini hanyalah soal pilihan, soal kebiasaan dan lebih dari itu
adalah kepercayaan menyangkut dengan apa dan bagaimana manusia sampai
pada apa yang dicita-citakannya dalam hidup. Maka, sudah barang tentu
masing-masing memiliki pilihannya sendiri-sendiri yang disesuikan dengan
pandangan hidupnya, kepentingannya dan keyakinan yang telah terbangun
di dalam dirinya selama ini. Karena itu, jelaslah bahwa Barat tidak
perlu menjadi seperti Timur, begitu juga Timur tidak perlu menjadi
Barat. Yang diperlukan oleh masing-masing adalah bahwa apa yang menjadi
tujuan-nya perlu dicapai dengan cara-cara yang dikembangkannya sendiri.
Maka sejalan dengan pembicaraan tentang keberadaan filsafat Jawa,
persoalannya bukan terletak pada semangat pembagian dikotomis bahwa
pemikiran Barat filosofis (rasional, kritis, reflektif, mendasar,
komprehensif) sedangkan Timur (Jawa) irasionalis, tidak kritis, tidak
reflektif, tidak mendasar dan tidak komprehensif. Persoalan ini tidak
mungkin dapat dimengerti tanpa memahami perlunya prinsip identitas
sebagai persoalan metafisis yang mendasari segala yang ada.
2. Prinsip Identitas
Pembicaraan tentang keberadaan filsafat Jawa perlu didekati dari
sudut pandang metafisis, khususnya dengan berdasarkan prinsip
identitas. Prinsip ini mengatakan bahwa
“being is being,” “yang-ada adalah yang-ada” (Gerard Phelan), bahwa
“each being is what it is,” “setiap benda adalah apa adanya” (Maritain) atau dapat juga berarti
“what exist exists” (Bagus,
1991: 81). Mengingat pemikiran Jawa juga bagian dari
realitas,sementara keberadaan realitas berdasarkan pada satu prinsip,
yaitu prinsip identitas, yang menjadi prinsip tertinggi dalam rangka dan
dalam upaya memahami sesuatu, maka dasar keberadaan filsafat Jawa juga
perlu didasarkan pada prinsip identitas ini untuk memperoleh pengesahan
dirinya sebagai sesuatu dengan identitas tertentu yang unik, yang
berbeda dari lainnya.
Dari kutipan di atas sebenarnya telah jelas bahwa pada dasarnya
setiap yang yang-ada (bereksistensi) adalah dirinya sendiri dan dengan
demikian dibedakan dari lainnya. Jika ‘yang-ada’ pada dasarnya adalah
dirinya sendiri, maka setiap hal sebagai bagian dari yang ada harus
dilihat sebagai dirinya sendiri. Sebagai dirinya sendiri jelas
mengisyaratkan bahwa Keberadaannya sama sekali tidak ditentukan oleh
keberadaan yang lainnya dan tidak harus ‘seperti’ apalagi mengikuti dan
mengidentikkan diri dengan ‘ada-yang lain’ itu. Jika pelanggaran
terhadap prinsip identitas terjadi, maka ‘yang-ada’ yang seharusnya unik
itu dengan sendirinya kehilangan identitas dirinya dan tak dapat
dipikirkan sebagai bagian dari yang-ada yang memang seharusnya berbeda
dari apa pun lainnya.
Sebagai dirinya, maka ia harus sesuai dengan kodratnya. Dengan kata
lain dapat dikatakan bahwa setiap yang ada memiliki hakikatnya sendiri,
hakikat yang tertentu (
natura determinata). Karena itu,
semestinya dapat dipahami keunikan, keotentikan dari setiap yang ada dan
lebih dari itu perlu dihormati keberadaannya karena memang tak mungkin
yang ada itu sama dengan yang ada lainnya. Kaslau pun ada kesamaan,
maka kesamaan di antara semua yang ada hanya sebatas vertikal, karena
segala sesuatu (yang-ada) kembali kepada yang-satu, tetapi masing-masing
senantiasa berbeda dari lainnya jika dilihat dalam hubungannya satu
dengan lainnya secara horisontal.
3. Sudut Pandang Hakekat Kemanusiaan
Dengan penekanan yang berbeda atas potensi rohani manusiawi yang
menjadi andalannya hendak dikatakan di sini bahwa yang menjadi persoalan
berkaitan dengan perbedaan Timur dan Barat adalah dalam hal potensi
manusiawi mana yang dijadikan andalan dalam rangka menggapai sang ‘Ada’
yang tertinggi itu, apakah dengan mengandalkan akal budi ataukah
intuisi. Dengan kata ‘mengandalkan’ hendak dimaksudkan bahwa
pertimbangan rasional bukan sama sekali dikesampingkan dalam segala hal
(urusan) di Timur (dalam hal ini Jawa). Ia hanya tidak dipentingkan
sebagai satu-satu-nya jalan menuju ‘kebenaran yang dicarinya.’ Sebab,
jika benar bahwa Timur sama sekali tidak menghargai rasionalitas, maka
tentu kenyataan ini akan janggal dan bersifat kontradiktif dengan
hakekat kemanusiaan yang inheren di dalam dirinya, disadari atau tidak,
sebagai makhluk yang ‘makhluk metafisis,’ makhluk yang tak (pernah) puas
untuk berhenti pada hal yang konkret yang aktual, tetapi berusaha
mencari sesuatu di balik yang ada, melampaui yang fisik
(meta ta physica)
dan mencari sesuatu yang tersembunyi. Sebabnya, karena manusia tak puas
untuk membiarkan dirinya terbelenggu dalam kenyataan hidupnya yang
terkini. Dengan ini jelas terlihat bahwa manusia mau “keluar” dari
keterbatasan fisiknya sebagai salah satu bentuk pengung-kapan
transendensi manusia.
Dari kecenderungan manusiawi seperti tersebut di atas dapat
disim-pulkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sepenuhnya
terbelenggu oleh keterbatasan fisiknya. Manusia bukan sepenuhnya kodrati
alami, tapi seluruh eksistensinya melebihi kodrat,
“homo additus naturae,”
yang tak mau terbelenggu oleh dan dalam ketubuhannya atau
kejasmaniannya. Lebih dari itu, manusia adalah makhluk yang mampu
berpikir, bernalar, yang dengannya manusia cepat atau lambat, suka tidak
suka, direncana atau tidak, sadar atau tidak pada akhirnya akan
“melihat” atau “menemukan” ide mengenai ‘yang-ada,’ ‘sesuatu yang
mutlak,’ ‘sang realitas.’ Hal itu disebabkan karena manusia ada-lah
makhluk rohani yang ingin melampaui “dirinya” sendiri (Bagus, 1991:
4-5).
Dengan penjelasan filsafati tentang kodrat manusia yang bukan
semata-mata jasmani, tetapi juga rohani, dan sebagai makhluk rohani
manusia akan senantiasa berpikir, melakukan transendensi atas kenyataan
hidupnya, maka amat sulit dibayangkan baha filsafat akan terpisah dari
kehidupan manusia. Karena itu pula, sebagai konsekuensi logis, harus
dikatakan bahwa manusia Jawa juga berada dalam pencarian
filosofis/filsafati akan dirinya, akan sesu-atu yang dianggapnya
bermakna bagi dirinya, bagi hidupnya. Persoalannya adalah seperti
apakah pemikiran filosofis orang Jawa itu? Ini yang selanjut-nya harus
ditunjukkan, harus dirumuskan agar supaya menjadi jelas.
D. Penutup
Berbagai sudut pandang telah dikemukakan di dalam Bab II dalam rangka
untuk memperoleh pendasaran filosofis atas keberadaan filsafat Jawa.
Dari keseluruhan uraian yang telah dikemukakan, dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa setidaknya terdapat dua sumber pengetahuan yang perlu
dievaluasi kembali jika hendak dilihat secara makro.
Pertama adalah bahwa memang terdapat kerancuan dalam hal pilihan kata
yang semestinya digunakan untuk menamai suatu pengertian yang bersifat
kefilsafatan. Kerancuan agaknya terjadi karena konsep-konsep yang
mendasari atau membangun suatu istilah sebagai dirinya sendiri kurang
dipahami dengan baik. Akibatnya, terjadi suatu keadaan
‘tumpang-tindih,’ ‘salah-kaprah,’ dan kebingungan sehingga wajar jika
kemudian kekacauan pengertian pun tidak terhindarkan.
Kedua, filsafat yang tumbuh di Yunani dan berkembang pesat di Barat
hingga kini juga tidak berdiri di atas satu dasar yang konstan dan kaku
apalagi ekstrim. Sebagai contoh, tak ada kesepakatan apa pun sehubungan
dengan pemahaman tentang filsafat itu apa. Sebagaimana yang terjadi
pada para filsuf Barat, sikap yang perlu dikembangkan agaknya kemauan
berfilsafat. Hal itu jauh lebih berguna daripada meributkan ‘filsafat
itu apa,’ apalagi kita mengetahui bahwa kegiatan berfilsafat itu belum
selesai, masih terus dilakukan di belahan bumi mana pun dalam rangka
hidupnya. Karena itu, yang jauh lebih penting bukan pertanyaan ‘apakah
filsafat Jawa itu ada atau tidak?’ tetapi pertanyaan ‘bagaimana orang
Jawa itu berfilsafat di dalam hidupnya? Untuk apa mereka berfilsafat?’
Dst. Dst.
Ketiga, ditinjau dari sudut pandang metafisis, ada-tidaknya filsafat
Jawa tidak boleh didasarkan pada satu ukuran (Barat), apalagi ukuran
tersebut dike-nakan secara ketat untuk menghakimi sesuatu “produk”
budaya yang berasal dari lingkungan budaya yang berbeda (Jawa). Sebab,
jika itu dilakukan, maka pluralitas yang-ada akan diingkari dengan
sendirinya dan ini jelas merupakan satu pelanggaran terhadap prinsip
identitas yang melandasi segala yang-ada.
DAFTAR PUSTAKA
Angeles, Peter A.
Dictionary of Philosophy. New York: Barnes & Noble Books, 1981
Anh, To Thi.
Nilai Budaya Timur dan Barat: Konflik atau Harmoni. Jakarta: Gramedia, 1985
Bagus, Lorens.
Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
——————-. “Ludwig Wittgenstein: Masalah Bahasa dan Makna.” Dalam
Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Penyunting: FX. Mudji Sutrisno & F. Budi Hardiman. Yogyakarta: Kanisius, 1992
——————-.
Metafisika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991
Beekman, Gerard dan A.A. Rivai.
Filsafat Para Filsuf Berfilsafat. Jakarta: Erlangga, 1984
Bertens, K.
Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman. Jakarta: Gramedia, 1990.
————–.
Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales ke Aristoteles. Yogyakarta: Kanisius, 1992
Echols, john M. dan Hasan Shadily.
Kamus Indonesia-Inggris: An Indonesia-English Dictionary. Jakarta: Gramedia, 1990
———————————————–.
Kamus Inggris-Indonesia: An English-Indonesian Dictionary. Jakarta: Gramedia, 1989
Heuken SJ, Adolf.
Deutsch-Indonesisches Woerterbuch. Kamus Jerman-Indonesia. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka dan Gramedia, 1987
Jung, Carl Gustav.
Menjadi Diri Sendiri: Pendekatan Psikologi Analisis. Jakarta: Gramedia, 1987
Krause, Erich-Dieter.
Woerterbuch Indonesisch-Deutsch. Leipzig: VEB Verlag Enzyklopaedie, 1985
Lanur, Alex, OFM.
Logika. Yogyakarta: Kanisius, 1983
Leahy, Louis.
Manusia, Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal. Jakarta: Gramedia, 1989
Peursen, C.A. van.
Orientasi di Alam Filsafat. Jakrta: Gramedia, 1980
Poerwadarminta, W. J. S.
Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984
Windelband, Wilhelm.
A History of Philosophy: Greek, Roman, and Medieval. Vol. I. New York: Harper & Brothers, Publishers, 1958
—————————-.
A History of Philosophy: Renaissance, Enlightenment, and Modern. Vol. II. New york: harper & Row, 1958