Minggu, 05 Juni 2016
Kamis, 02 Juni 2016
KEDATANGAN PARA PEMIMPIN DARI KETURUNAN NABI
قل إنما أنذركم بالوحي ولا يسمع الصم الدعاء إذا ما ينذرون
“Katakanlah
(hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu
sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar
seruan, apabila mereka diberi peringatan" (QS. Al-Anbiyaa: 45)
إن هو إلا وحي يوحى
“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An-Najm: 4)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Al-Ustadz Alvaen El-Mahbub bertanya kepada saya dalam lanjutan diskusi di FACEBOOK. Untuk mempersingkat waktu (berhubung tulisan beliau sangat panjang sehingga terpaksa saya membuat rangkuman dan menjadikan pekerjaan saya berlipat ganda karena selain harus menjawab juga harus merangkum), saya akan tuliskan rangkuman dari pertanyaan itu, mudah-mudahan saya tidak keliru:
Al-Ustadz Alvaeni El-Mahbubi menulis dalam FB sebagai berikut:
#: pertama yang harus anda jawab adalah :
* adakah hadist 12 imam itu adalah arahan dan petunjuk kepada umat muslimin terhadap apa yang harus mereka lakukan di masa yang akan datang di tangan 12 khalifah..??
*atau hadist tersebut hanya memberi kahabar terhadap keadaan umat muslimin di bawah tangan 12 khlaifah ?? (memberi khabar terhadap apa yang belum terjadi/ghaib
(saya kutip apa adanya tanpa mengubah apapun termasuk salah ketik yang sering beliau lakukan)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jawaban saya adalah sebagai berikut:
Pertama kali izinkan saya untuk menuliskan hadits-hadits yang berkenaan dengan wajibnya kita memiliki Imam. Pengikut Ahlul Bayt (kaum Syi’ah) sama seperti halnya pengikut Ahlu Sunnah percaya akan adanya suatu keharusan untuk mentaati seorang pemimpin karena Allah telah berfirman dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisaa: 59)Ketaatan yang disebutkan untuk pemimpin itu (dalam ayat tersebut) disejajarkan dengan ketaatan terhadap Allah dan RasulNya. Jelas akal kita berkata: “Pastilah itu bukan sekedar pemimpin” karena kalau hanya sekedar pemimpin, maka nantinya akan ada kerancuan.
Misalnya: anda mengikut seorang pemimpin yang dzalim, sedangkan ayat al-Qur’an menyuruh kita untuk mentaati mereka dan ketaatan kepada mereka disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Maka kalau kita mengikuti pemimpin yang dzalim itu maka kita akan dihadapkan kepada satu dilema. Apa itu?
Kita harus mengikuti kebijakan pemimpin yang dzalim yang ternyata misalnya kebijakannya bertentangan dengan ajaran Allah di sisi lain anda harus mengikuti ajaran Allah yang bertentangan dengan kebijakan buruk dari sebuah pemerintahan yang buruk. Jelas itu konyol dan tidak bisa masuk di akal sehat.
KESIMPULANNYA IALAH:MA’AF, PENDAPAT ANDA ITU MENGGELIKAN (karena Rasulullah bukanlah seorang tukang nujum atau peramal yang hanya memberitahu keadaan masa depan tanpa ada pembelajaran di dalamnya. Rasulullah memberitahu kita tentang yang 12 itu agar kita kelak mengikuti mereka dan bukan menentangnya. Merekalah yang dijanjikan dan anda tahu itu tapi malu mengakuinya).
1. PASTILAH PEMIMPIN YANG DIMAKSUD ITU BUKAN SEKEDAR PEMIMPIN.
2. PEMIMPIN YANG DIMAKSUD OLEH AL-QUR’AN (yang ketaatan kepada mereka disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya) PASTILAH PEMIMPIN YANG DITUNJUK OLEH ALLAH DAN RASULNYA (lihat lagi QS. AL-BAQARAH: 124, yang tidak pernah berani anda bahas). PEMIMPIN YANG TERPELIHARA DARI DOSA (karena kalau ia melakukan suatu perbuatan dosa, dan kita tidak boleh menentangnya maka kita pada saat yang sama telah menentang Allah dan RasulNya). PEMIMPIN YANG DIJANJIKAN KEPADA KITA UNTUK MENGURUSI KITA (seperti yang diwasiatkan dalam hadits-hadits 12 pemimpin).
3. JELAS SEKALI HADITS-HADITS YANG PERNAH SAYA SAMPAIKAN (yang membuat anda dan santri anda dalam kebingungan dan kehiruk-pikukan) MENYIRATKAN ADANYA PEMIMPIN (yang jumlahnya 12 seperti yang dijanjikan) YANG WAJIB UNTUK DITAATI; YANG KETAATAN KEPADA MEREKA DISEJAJARKAN DENGAN KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA.
4. DENGAN DEMIKIAN KESIMPULAN 1 SAMPAI 3 MENAPIKAN PENDAPAT YANG ASAL-ASALAN (karena tidak didukung oleh dalil dan hujan yang mapan) YANG MENYEBUTKAN BAHWA HADITS ITU SEKEDAR MEMBERITAHU TENTANG APA YANG AKAN TERJADI DI MASA DEPAN.
BAGAIMANA KATA HADITS TENTANG KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMIMPIN?
Berikut akan saya paparkan beberapa hadits tentang kewajiban untuk memiliki, mengikuti dan mentaatipemimpin atau imam.
1. “Barangsiapa mati tanpa imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Majma’ az-Zawa’id, jilid 5, halaman 218; lihat juga Abu Dawud, Musnad, halaman 259 dari jalur ‘Abdullah bin Umar dan ditambahkan: “Dan barangsiapa menolak untuk taat, maka pada hari kiamat ia tidak punya hujjah, pembelaan”)
2. “Barangsiapa mati tanpa berbai’at maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Shahih Muslim, jilid 6, halaman 22; lihat juga Baihaqi, Sunan, jilid 8, halaman 156; kemudian Ibnu Katsir dalam Tafsir, jilid 1, halaman 517; Al-Haitsami dalam Al-Majma’, jilid 5, hal. 218)
3. “Barangsiapa meninggal dan tiada ketaatan (kepada imam), maka ia telah meninggal dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Imam Ahmad dalam Musnad, jilid 3, hal. 446; Haitsami dalam al-Majma’, jilid 5, hal. 223)
4. “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Al-Taftazani, Syarh al-Maqashid, jilid 2, hal. 275. Ia mengeluarkan hadits ini dalam hubungan ayat (QS. An-Nisaa: 59) yang saya kutipkan di atas. Syaikh ‘Ali al-Qari, Al-Marqat fi Khatimah al-Jawahir al-Madhiyah, jilid 2, hal. 509, dan pada hal. 457 tatkala mengutip Shahih Muslim yang berbunyi: “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”, ia menambahkan bahwa arti hadits tersebut adalah: “seseorang yang tidak mengetahui bahwa ia wajib mengikuti tuntunan imam pada zamannya.
Cukup 4 saja hadits yang saya sampaikan sebagai contoh. Hadits yang serupa anda bisa lihat di literatur yang lain. Perkenankanlah saya menutup tulisan ini dengan kesimpulan lain untuk menambahkan dan menegaskan kesimpulan sebelumnya.
KESIMPULAN:-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. ADALAH CEROBOH DAN NAIF SEKALI KALAU MENGATAKAN BAHWA HADITS NABI TENTANG 12 IMAM ITU SEBAGAI HADITS UNTUK MEMBERITAHU TENTANG MASA DEPAN TANPA ADANYA KONSEKWENSI UNTUK MENGIKUTI MEREKA YANG DIJANJIKAN KEDATANGANNYA DALAM HADITS ITU
2. HADITS RASULULLAH ADALAH WAHYU YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH KARENA RASULULLAH TIDAK PERNAH BERKATA KECUALI WAHYU YANG DIKATAKANNYA (lihat ayat al-Qur’an yang saya petikkan di awal pembahasan, An-Najm ayat 4) JADI RASULULLAH TIDAK PERNAH MAIN-MAIN DENGAN UCAPANNYA. KALAU BELIAU MENYEBUT ADA 12 PEMIMPIN, MAKA ITU BERKONOTASI WAJIB MENGENALI MEREKA, DAN WAJIB MENGIKUTI MEREKA (lihat lagi ayat al-Qur’an, An-Nisaa: 59)
3. KESIMPULAN DI ATAS DITAMBAH KESIMPULAN SEBELUMNYA SUDAH MENJAWAB BANYAK PERTANYAAN ANDA SEKALIGUS
SEMOGA ILMU ANDA DAN PEMAHAMAN ANDA ATAS AGAMA DITAMBAHKAN LEWAT DISKUSI INI. AMIN.
Posted 28th February 2013 by +RA.Selvi PitaLoka
Jumat, 27 Mei 2016
Master (S2) Program in Linguistics
Profile History
Master (S2) Program in Linguistics is established since 1992, based upon Directorate General of Higher Education Decree No. 431/Dikti/Kep/1992, dated at the 6th of October 1992. Master Program in Linguistics has accredited by BAN-PT with B mark. In 2012, the Program has applied for Re-Accreditation. Program Vision, Mission, and Aim Vision Master Program in Linguistics Vision is ”Become a centre of Master Education that optimally develop science, technology, and art; based on Unud PIP in culture, to produce excellent, independent, and cultured Master graduates in Linguistics”. Mission
To carry out an excellent education and produce graduates that possess high moral and integrity in fulfilling the community demands;
To develop excellent research in linguistics field that are able to produce high grade findings which are beneficial for Linguistics development in Indonesia, community development, and national culture development;
To utilize Unud PPs Master (S2) Program in Linguistics as an institution that based upon science and technology (IPTEK) and cultural values through developing partnership with public and private institutions, in either local, national, or international level; and
To increase institutional capacity and role in IPTEK and community development, through research and the implementation of linguistics, culture, and social values.
Aim
To provide master education through producing independent attitude in thoughts and developing scientific view in linguistics, translation, literary discourse, and language teaching field;
To produce excellent graduates that possess highly competitive linguistics competence for the development of concept, theory, and method; in order to carry out professional, responsive, and positive work and findings in vocation and community, of either local, national, or international level;
To improve the relevancy of research creativity and community service to stakeholder interest, so the developed Linguistics stays relevant and useful to community demands;
To generate a conducive, exceptional, professional, and independent academic community life through an excellent, healthy, transparent, democratic, and prospective master education management system; and
To develop partnership with various national or international related parties to improve the quality of three college responsibilities (Tri Dharma Perguruan Tinggi), through improving managerial skills, strengthening independent development, and improving service quality.
Concentration
Linguistics
Applied Linguistics (Translation)
Literature (Narrative Discourse)
Applied Linguistics (Language Teaching and Learning)
Title
Following the completion of education at Master Program in Linguistics, Udayana University Postgraduate Program, the graduates have the right to the title of Magister Humaniora (M.Hum). Length of Study The lecture held at Unud Postgraduate Building Jl. P.B. Sudirman-Denpasar every Sunday to Friday. The schedule of lecture at Master Program in Linguistics is in the morning or in the evening.
Master (S2) Program in Linguistics is established since 1992, based upon Directorate General of Higher Education Decree No. 431/Dikti/Kep/1992, dated at the 6th of October 1992. Master Program in Linguistics has accredited by BAN-PT with B mark. In 2012, the Program has applied for Re-Accreditation. Program Vision, Mission, and Aim Vision Master Program in Linguistics Vision is ”Become a centre of Master Education that optimally develop science, technology, and art; based on Unud PIP in culture, to produce excellent, independent, and cultured Master graduates in Linguistics”. Mission
To carry out an excellent education and produce graduates that possess high moral and integrity in fulfilling the community demands;
To develop excellent research in linguistics field that are able to produce high grade findings which are beneficial for Linguistics development in Indonesia, community development, and national culture development;
To utilize Unud PPs Master (S2) Program in Linguistics as an institution that based upon science and technology (IPTEK) and cultural values through developing partnership with public and private institutions, in either local, national, or international level; and
To increase institutional capacity and role in IPTEK and community development, through research and the implementation of linguistics, culture, and social values.
Aim
To provide master education through producing independent attitude in thoughts and developing scientific view in linguistics, translation, literary discourse, and language teaching field;
To produce excellent graduates that possess highly competitive linguistics competence for the development of concept, theory, and method; in order to carry out professional, responsive, and positive work and findings in vocation and community, of either local, national, or international level;
To improve the relevancy of research creativity and community service to stakeholder interest, so the developed Linguistics stays relevant and useful to community demands;
To generate a conducive, exceptional, professional, and independent academic community life through an excellent, healthy, transparent, democratic, and prospective master education management system; and
To develop partnership with various national or international related parties to improve the quality of three college responsibilities (Tri Dharma Perguruan Tinggi), through improving managerial skills, strengthening independent development, and improving service quality.
Concentration
Linguistics
Applied Linguistics (Translation)
Literature (Narrative Discourse)
Applied Linguistics (Language Teaching and Learning)
Title
Following the completion of education at Master Program in Linguistics, Udayana University Postgraduate Program, the graduates have the right to the title of Magister Humaniora (M.Hum). Length of Study The lecture held at Unud Postgraduate Building Jl. P.B. Sudirman-Denpasar every Sunday to Friday. The schedule of lecture at Master Program in Linguistics is in the morning or in the evening.
Selasa, 24 Mei 2016
PATUT DI CONTOH...!!! Kapolres Ini Larang Aktifitas Polisi Saat Azan Berkumandang.. SHARE YA
![]() |
Kepolisian Bukittinggi beruntung mempunyai sosok Ajun Komisaris Besar Polisi Tri Wahyudi, S. Ik, MH yang merupakan Kepala Kepolisian Resor Bukittinggi, Sumatera Barat. Sebagai pemimpin, ia memastikan anggota yang di pimpinnya tidak melakukan hal yang menyimpang, termasuk juga ia mengambil keputusan ketentuan pelarangan beraktifitas
" Tak ada yang beraktifitas lagi didalam ruangan, terkecuali untuk yang wanita (berhalangan-red), termasuk juga yang non muslim. Bila ada yang tidak shalat, waktu apel pagi saya tegur, " tutur Kapolres seperti diberitakan Sumbarhebat pada Minggu (6/3).
Terkecuali jadi kewajiban umat muslim kepada Tuhannya, Tri Wahyudi menyebutkan program ini adalah bagian dari revolusi mental anggota Polri.
" Bila mental masih rusak, bagaimana mungkin saja layanan Polri bisa berjalan baik, " tegasnya.
Mulai sejak peraturan itu diberlakukan, proses shalat berjamaah di mushalla Maporles Bukittinggi makin ramai, terutama shalat zuhur serta ashar yang terlihat paling shafnya paling penuh di isi oleh beberapa anggota kepolisian,
" Saat ini mushalla Mapolres sering penuh. Apabila biasanya hanya satu shaf, saat ini bisa 3 sampai 4 shaf, " tutur Kabag Sumda Kompol Nasir. (mh)
Jumat, 06 Mei 2016
Indonesia's Political Parties
Secular Parties
Democratic Party (Partai Demokrat)
The secular-nationalist Democratic Party was established in 2001 as a political vehicle to carry Susilo Bambang Yudhoyono to the presidency in the 2004 elections. Intellectuals, academics, and nationalist politicians supported the initiative. It met success in 2004, winning 55 seats. In the 2009 elections, it nearly tripled this number to 148 seats—neither an easy nor a typical feat for an Indonesian political party. It has also served as a model for other aspiring presidential candidates to form their own political parties.
Hoping to appeal to the most Indonesians possible, the Democratic Party calls itself a moderate, centrist party. It has been so committed to this label that it can be difficult to discern a consistent ideology in the party’s policies. Yudhoyono’s record, however, reveals that the party supports economic liberalization, political and cultural pluralism, and an internationalist outlook.
The Democratic Party has not had an easy last few years. Since its victory in 2009, it has become the target of numerous corruption investigations. As a result, several of its leading members (including the party chairman and party treasurer) have resigned. Other parties have taken advantage of the graft and kickback scandals to criticize the Democratic Party, noting that Yudhoyono made combating corruption one of his primary objectives in the 2009 elections.
Now that Yudhoyono has nearly completed two successful terms as president, he wants to make the Democratic Party a viable political organization in its own right, partly as a way of protecting his legacy. To achieve this, the party is holding a convention for eleven nominees who have been short-listed to become its presidential candidate. The shortlist includes the Indonesian ambassador to the United States, Dino Patti Djalal, Trade Minister Gita Wirjawan, State-Owned Enterprises Minister Dahlan Iskan, and former Indonesian army chief of staff Pramono Edhie Wibowo, who is also Yudhoyono’s brother-in-law and, for now, the rumored front-runner. The winner of the convention will be determined by three national polls, although some suspect that Yudhoyono, as the new party chairman, will make the final determination. The decision is expected to be finalized by May 2014 at the latest, after the legislative elections for the lower house of parliament, the House of Representatives, have concluded.
The Democratic Party’s support is distributed across Indonesia and concentrated in urban areas and the middle class, but this support is dwindling. As a result, the party is not projected to maintain its position as the biggest party in parliament in 2014, although it will likely stay within the top five.
Golkar (Party of the Functional Groups)
Golkar, a large secular-nationalist party, is the oldest operating party in Indonesia. During the New Order, or the era of former Indonesian president Suharto, who presided over a centralized, authoritarian government for three decades and was forced out in 1998, it was the official government party and thus controlled parliament. All government employees were expected to vote for Golkar, and Golkar always supported Suharto’s policies.
The party has held its own surprisingly well in the three elections since Suharto’s ouster. Pivotal to this success has been its effort to reform its image and sideline politicians considered too close to Suharto and the military. Economic development through liberalization is Golkar’s chief policy, and its claim to legitimacy is based on its cadres’ technical expertise and business experience (although it still uses populist programs to boost its popularity in rural areas). It is secular in its outlook and has typically erred on the side of religious tolerance. Its vertical and horizontal organization has meant that of all political parties in the country, Golkar enjoys support that is spread most evenly across all the regions.
Golkar has yet to nominate a winning candidate for president, but it was the largest party in the House of Representatives in 2004 and the second-largest party in 2009 (after the Democratic Party). It is poised for strong results again in 2014.
As a party with a long history and strong institutional roots, Golkar does not revolve around a single personality. It is also one of very few Indonesian parties to consistently hold conventions to determine a presidential candidate. This means that Golkar’s fortunes are unlikely to rise and fall with those of a single candidate and that it is unlikely to depart from the national political scene anytime soon.
But factional conflicts within the party have eroded its unity, and it struggles to come together behind a chosen candidate. The three newest parties in parliament—Gerindra, Hanura, and NasDem—were all created by dissatisfied ex-Golkar politicians.
PDI-P (Indonesian Democratic Party-Struggle)
During Yudhoyono’s decade-long tenure as president, PDI-P has consistently represented itself as the populist, secular-nationalist, “pro-poor” voice of the opposition. PDI-P’s support is based primarily in Java, which is heavily Muslim, but the party has been consistently vocal in its support for religious tolerance and pluralism and its opposition to policies that appear to impose Islam as a state ideology.
PDI-P grew out of the Indonesian Democratic Party, which was the primary opposition party to the ruling Golkar during Suharto’s New Order. It moved from opposition to ruling party when its current chairwoman, Megawati Sukarnoputri, was president (2001–2004), but PDI-P’s inability to drive reforms as the ruling party in parliament disappointed its followers.
There are notable differences between PDI-P’s policies during its stint in power and those it has pursued as an opposition party. Economic nationalism, for example, has formed a significant plank of the party’s policy platform throughout Yudhoyono’s rule. When the president enacted fuel hikes in 2005 and 2013, PDI-P strongly objected on the grounds that these policies would burden the poor. However, PDI-P pursued a fuel subsidy reduction while it was in power in 2003. Similarly, as an opposition party, PDI-P has been a strong critic of the military, but when it was the ruling party it regularly used military force to crack down on separatist movements.
PDI-P is not quite a personal vehicle for its matriarch, Megawati, but it does draw heavily upon her star power. The memory of her father, Sukarno, who was Indonesia’s charismatic first president, remains very prominent in PDI-P.
In 2014, the party faced a big decision: nominate Megawati for the fourth time or undergo a changing of the guard and nominate the popular Jakarta governor Joko Widodo, known as Jokowi. On March 14, PDI-P chose to nominate Jokowi, hoping to capitalize on his widespread appeal during the parliamentary as well as the presidential elections.
With 94 seats in the House of Representatives, PDI-P is currently the third-largest party in parliament. Nonetheless, it claims to be ready to return to a position of leadership in 2014, and polls indicate that the party could land in first or second place in the lower house elections. By choosing to nominate Jokowi, PDI-P has substantially increased its chances of driving Indonesia's future.
Gerindra (Great Indonesia Movement Party)
Gerindra is the “hot” new party in Indonesia’s political landscape. It is a secular party whose chief ideology appears to be fierce nationalism and defense of the unitary state. On economic policy, the party’s chief patron, former lieutenant general Prabowo Subianto, claims to desire a balance between populist “national interests,” foreign investment, and subsidy cuts.
Gerindra was established in 2008 as Prabowo’s political vehicle after he failed to win the 2004 presidential nomination of his original party, Golkar. Gerindra’s policy platform remains hazy and at times contradictory since its primary purposes are to facilitate Prabowo’s presidential campaign and appeal to as many Indonesians as possible.
Gerindra has substantial financial resources provided by Prabowo’s brother, Hashim Djojohadikusomo, one of Indonesia’s richest men. This allows Gerindra to operate well-designed public relations campaigns to boost its profile. In 2009, the party won 26 seats in parliament, and it is likely to improve on that result in 2014.
To further enhance its chances of success, Gerindra began absorbing smaller parties from across the political spectrum as early as 2011. However, Gerindra’s singular devotion to Prabowo will make it difficult to fashion a broad coalition of interests and develop extensive nationwide networks.
Hanura (People’s Conscience Party)
Just like the Democratic Party and Gerindra, Hanura is a political party created to fulfill an individual’s presidential ambitions. Its patron is former general Wiranto, who—like Prabowo—failed to find success within Golkar, which prompted him to establish Hanura in 2006.
Also like Gerindra, Hanura has spent the past five years as an opposition party and promotes a highly nationalist ideology lacking in specifics. It sets itself apart by targeting parts of eastern Indonesia—particularly Sulawesi—as a voting base. Wiranto’s Christian and Chinese running mate could also bolster Hanura’s popularity beyond the Muslim strongholds of Java and Sumatra.
Hanura was the smallest party in parliament in 2009, when it won seventeen seats and 3.8 percent of the national vote. This is just above the new parliamentary threshold for the 2014 elections, which requires a party to receive 3.5 percent of the national vote in order to be eligible for parliamentary representation. Most surveys suggest Hanura will increase its share and make the cutoff. The recent addition of media tycoon Hary Tanoesoedibjo as the party’s chief patron will boost Hanura’s resources. So far, however, Wiranto’s presidential campaign has been eclipsed by Prabowo’s.
PKPI (Indonesian Justice and Unity Party)
PKPI, a firmly secular and nationalist party that has vocally supported Yudhoyono’s Democratic Party since 2004, splintered from Golkar in 1999 on the grounds that Golkar was drifting toward accommodating Islamic interests. It is strongly affiliated with the armed forces and has the backing of Suharto’s vice president, former general Try Sutrisno. Its focus on maintaining national unity has even been used to justify its support for passage of a conservative anti-pornography bill.
PKPI was initially excluded by the General Elections Commission on the grounds that it had not offered sufficient proof of nationwide support, a decision that was later overruled by the Election Supervisory Body.
NasDem (Nasional Demokrat)
NasDem began as a civic mass organization founded by several Golkar leaders in 2010. In July 2011, the NasDem Party was forged out of this organization by media mogul Surya Paloh. Thanks to its organizational strength and Paloh’s wealth, this brand-new secular-nationalist party had no difficulty qualifying for the 2014 elections, although it may still pursue partnership with PDI-P.
Despite projections that NasDem will win seats in parliament, the cohesion of its leadership is still very much in flux. A number of high-profile politicians have left NasDem since its inception, with Paloh’s tight grip over the party possibly being at the root of these disputes.
Islamic Political Parties
PKS (Prosperous Justice Party)
PKS is known for its educated, politically savvy leaders, its well-developed organizational and electoral strategies, and its modern, pragmatic Islamic ideology. When it burst onto the national scene in 2004, going from seven to 45 seats in the House of Representatives, international observers wondered if the party represented the future of political Islam in Indonesia. PKS seemed positioned to transform the landscape of Indonesian politics.
The party won 57 seats in 2009, but its credibility took a big hit in January 2013 when its chairman and other staffers became implicated in a graft scandal. The credibility of other Islamic parties implicated in the scandal was also damaged as all had made moral leadership a central pillar in their campaigns.
Since then, PKS has tried to repair its reputation but appears to have lost its way. Despite being in the ruling coalition, PKS opposed the Yudhoyono government’s fuel price increase in an apparent play to populism, prompting Democratic Party leaders to urge PKS to leave the ruling coalition.
The party has also struggled to appeal to both conservative, rural Muslims and progressive, urban Muslims. PKS has supported the implementation of sharia law, but it recently decided against adopting the ultraconservative Wahhabism ideology. It has showed very poorly in opinion polls, which indicates that PKS may not even meet the national electoral threshold required to join the House of Representatives in 2014.
PAN (National Mandate Party)
PAN is an Islamic political party, and it is by far the most moderate of all the religious parties that will be competing in 2014. It was established by democratic reformist Amien Rais in 1998 and is unofficially affiliated with the Muhammadiyah movement, the more modernist of Indonesia’s two largest and oldest Muslim organizations (the other being Nahdlatul Ulama).
Of the Muslim parties, PAN also has the most evenly distributed support across the nation: it is the only Muslim party with a representative in the lower house from Papua, and it has also sponsored several Christian candidates. Since the 1970s, Indonesian parties have been categorized as either “Islamic” or “secular-nationalist,” depending on whether the party explicitly identifies itself as Muslim and grounds its policies in Islamic teachings. PAN rejects this standard Islamic-secular dichotomy, claiming to be an “open” party based on Indonesia’s pluralist national philosophy, the Pancasila.
The party has supported Yudhoyono’s ruling coalition since 2004. Its current chair, Hatta Rajasa, is also Indonesia’s coordinating minister for economic affairs, and his daughter is married to Yudhoyono’s son.
PAN’s electoral fortunes have been fairly stable since 1999. It won 46 seats in the 2009 legislative elections. The 2014 electoral threshold is higher than it has been in previous years, so PAN will likely join forces with smaller parties that have been deemed ineligible to compete for the election, including the Prosperous Peace Party, a moderate Christian party. In the past, PAN has competed with PKS for the votes of urban, middle-class Muslims. PKS appeared to be winning this contest, but its corruption-related travails may give PAN an advantage.
PPP (United Development Party)
Like PDI-P, PPP is the direct descendant of a Suharto-era party—in 1973, all of Indonesia’s Islamic parties were forcibly merged under one umbrella called PPP. Now, PPP has become a conservative Islamic party that supports the inclusion of religion in public education. In 1998, the party replaced Pancasila with Islam as its ideological foundation.
PPP appears to be assuming a more hardline stance with time, especially where minorities are concerned. The chairman of PPP, Minister of Religious Affairs Suryadharma Ali, has proclaimed both Shia Islam and the Ahmadiyya sect, an Islamic movement that began in the late nineteenth century, to be heretical. He has also praised the vigilanteIslamic Defenders’ Front, which has attacked churches, “sinful” businesses, and Ahmadiyya communities.
Suryadharma argues that dialogue with radical groups is more effective than alienating them politically. For the 2014 elections, PPP even nominated a spokesman from the Islamic Defenders’ Front, Munarman, for a House of Representatives seat, although the party rescinded the nomination when it did not meet the requirements of the Election Commission.
PPP’s shift toward hardline Islam has not been rewarded by voters. Its political fortunes have been on the decline since 1999, and it lost twenty parliamentary seats between 2004 and 2009, bringing its total to 38. In a bid to recover lost ground, PPP has moderated its most extreme stances, such as the demand for including the Jakarta Charter (which requires Indonesian Muslims to follow sharia law) in the amended constitution. It has also invited all other Muslim parties to join its campaign in 2014—except for PKS and PAN, which it does not consider truly Islamic.
PKB (National Awakening Party)
Though it was only established in 1998, PKB has deep roots in Nahdlatul Ulama, Indonesia’s largest Muslim organization. This connection has linked PKB to a voter base of rural, traditionalist Javanese Muslims. Yet the party’s policies have generally skewed closer to moderate Islam. Unlike Nahdlatul Ulama, for example, PKB does not advocate that Indonesia become an Islamic state, and it supported Indonesia’s controversial decision to host the 2013 Miss World contest.
As a result of these competing influences, PKB leaders have not been able to articulate a consensus on a clear party platform, an issue that is exacerbated by the party’s failure to develop a vertical and horizontal organization independent of the personal factions of its leaders.
The party’s most famous leader was the “eccentric” former president Abdurrahman Wahid, who envisioned the party as secular-nationalist and whose leadership prompted two splits within PKB. These splits eroded confidence in the party, and its seat allocation has dwindled from over 50 in both 1999 and 2004 to 28 in 2009.
In 2014, PKB is highly unlikely to field a presidential candidate, but its two would-be nominees represent the divergent strains within the party: Mohammad Mahfud MD, a well-respected former chief justice of the Constitutional Court who refused an invitation to join the Democratic Party convention, and Rhoma Irama, a pop star who has made inflammatory racial and religious comments.
PBB (Crescent Star Party)
PBB is the smallest Islamic party competing in the 2014 elections as well as one of the most conservative. The central platform of its campaign is the bottom-up implementation of sharia law.
Since its creation in 1998, however, PBB has been bedeviled with splits and turbulence. Its most visible parliamentary candidate in 2014 is graft convict Nazaruddin Sjamsuddin. The party had also nominated another highly visible graft convict, former police general Susno Duaji. Although his conviction was upheld by the Supreme Court, Susno defied attempts by the attorney general’s office to take him into custody. He eventually turned himself in and is now in jail, and PBB promptly replaced him with his daughter on its list of candidates.
Polls suggest that PBB will not win more than 1 percent of the national vote. No doubt sensing the need for partners, PBB has expressed interest in joining a coalition of Islamic parties and in 2010 floated the possibility of a strategic merger with Hanura.
Secular Parties
- Democratic Party (Partai Demokrat), ruling party chaired by President Yudhoyono
- Golkar (Party of the Functional Groups), large party known for neoliberal economic policies
- PDI-P (Indonesian Democratic Party-Struggle), large party known for populist policies
- Gerindra (Great Indonesia Movement Party), strongly nationalist party led by former lieutenant general Prabowo
- Hanura (People’s Conscience Party), strongly nationalist party led by retired general Wiranto
- PKPI (Indonesian Justice and Unity Party), small party affiliated with the armed forces
- NasDem (Nasional Demokrat), new party that splintered off from Golkar
Islamic Parties
- PKS (Prosperous Justice Party), pragmatic party with socially conservative policies
- PAN (National Mandate Party), moderate party with relatively progressive policies
- PPP (United Development Party), traditional party with socially conservative policies
- PKB (National Awakening Party), rural-based party with mainly moderate policies
- PBB (Crescent Star Party), small party with conservative policies
Read more at: http://carnegieendowment.org/2013/10/24/indonesia-political-parties
Secular Parties
- Democratic Party (Partai Demokrat), ruling party chaired by President Yudhoyono
- Golkar (Party of the Functional Groups), large party known for neoliberal economic policies
- PDI-P (Indonesian Democratic Party-Struggle), large party known for populist policies
- Gerindra (Great Indonesia Movement Party), strongly nationalist party led by former lieutenant general Prabowo
- Hanura (People’s Conscience Party), strongly nationalist party led by retired general Wiranto
- PKPI (Indonesian Justice and Unity Party), small party affiliated with the armed forces
- NasDem (Nasional Demokrat), new party that splintered off from Golkar
Islamic Parties
- PKS (Prosperous Justice Party), pragmatic party with socially conservative policies
- PAN (National Mandate Party), moderate party with relatively progressive policies
- PPP (United Development Party), traditional party with socially conservative policies
- PKB (National Awakening Party), rural-based party with mainly moderate policies
- PBB (Crescent Star Party), small party with conservative policies
Read more at: http://carnegieendowment.org/2013/10/24/indonesia-political-parties
Kamis, 05 Mei 2016
Kebenaran Ramalan Gus Dur Dalam Diri KH. Said Aqil Siradj
Gus Dur
Ramalkan Said Aqil Jadi Ketua Umum PBNU Setelah Umur 55 Tahun
Presiden RI
ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat meramalkan KH. Said Aqil Siradj
terpilih menjadi ketua umum PBNU setelah berusia 55 tahun. Ternyata ramalan itu
benar. Said Aqil Terpilih pada Muktamar ke-32 NU di Makassar pada usia 56
tahun.
Cerita ini
disampaikan sendiri oleh Said Aqil dalam acara Tasyakuran Sukses Muktamar di
kantor PP. GP. Ansor, Jakarta, Kamis (1/4/10) malam. ”Saya tidak menceritakan
ini sebelum Muktamar, nanti dikira kampanye,” kata Said Aqil bergurau.
Ceritanya,
pada Muktamar ke-30 NU di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Said Aqil yang
bertugas sebagai ketua panitia pusat berniat mengajukan diri sebagai calon
ketua umum PBNU, dan Gus Dur tidak setuju.
”Nanti sampeyan
itu baru jadi ketua umum PBNU setelah umur 55,” kata Gus Dur seperti ditirukan
Said Aqil. ”Saya tidak mengada-ngada, ada saksinya santri-santri saya di
Ciganjur,” tambahnya.
Namun pada
waktu itu Said Aqil tetap bersikeras mencalonkan diri, dan ternyata ia kalah
bersaing dengan KH Hasyim Muzadi. Pada Muktamar ke-31 NU di Solo, Said masih
berusia 50 tahun dan tidak ukut dalam bursa pencalonan.
”Pada
Muktamar Makassar saya tenang saja karena Gus Dur sudah bilang begitu. Kalau
saya tidak jadi berarti kewalian Gus Dur diragukan,” katanya disambut tawa
hadirin.
Dalam
kesempatan itu Said Aqil mengajak warga Nahdliyin yang hadir untuk membacakan
surat Al-Fatihah khusus untuk Gus Dur.
”Saya ini
tidak belajar kitab kuning dari Gus Dur, kalau belajar kitab kuning ya ke Kyai Mahrus Ali Lirboyo dan Kyai Ali Maksum
Krapyak. Saya belajar dari Gus Dur ilmu ahwal, ilmu tentang perilaku,”
katanya sebelum memimpin doa.
Doa dan
bacaan surat Al-Fatihah malam itu juga ditujukann kepada para pendiri NU antara
Lain KH Hasyim Asy’ari. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Ridwan Abdullah dan KH
Mas Alwi Abdul Aziz.
![]() |
| Gus Dur dan Gus Miek |
Redaksi Lain
Salah satu tanda orang
sholeh adalah ia memiliki pandangan batin yang sangat kuat sehingga mampu
melintasi ruang dan waktu. Ia bisa mengetahui kejadian-kejadian di masa
mendatang.
KH Said Aqil Siradj mengaku
dirinya telah diramalkan menjadi ketua umum PBNU oleh Gus Dur setelah usianya
mencapai 55 tahun.
Kiai Said menyatakan
dirinya tidak meminta Gus Dur untuk melihat masa depannya, tetapi ramalan Gus
Dur itu pun terucap begitu saja saat ia berkunjung ke rumahnya, yang masih satu
kompleks di Ciganjur.
Cerita ini bermula ketika
Gus Dur pagi-pagi berolah raga dengan diiringi para pengawal, saat itu
posisinya sudah sebagai mantan presiden. Lalu ia mampir ke rumah Kang Said,
yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari kediamannya.
Pada pagi yang cerah itu,
Gus Dur minta disediakan air putih dan sarapan roti tawar, juga meminta Kang
Said untuk membacakan kitab Ihya Ulumuddin, bab sabar dan tawakkal. Baru
membaca dua baris, Gus Dur ternyata sudah tertidur sehingga ia menghentikan
sementara membaca kitab tasawwuf karangan Imam Ghozali ini.
Lima menit kemudian Gus Dur
bangun dan langsung berujar, “Sampeyan (kamu) jadi ketua umum PBNU sesudah umur
55 tahun.”
Ucapan Gus Dur itu terbukti
benar, Kang Said terpilih menjadi ketua umum PBNU pada muktamar NU ke-32 yang
berlangsung di Makassar Maret, 2010 lalu pada usia 56 tahun. Kiai Said
dilahirkan di Cirebon, 03 Juli 1953.
Minggu, 24 April 2016
Berdoa: Menyelami Filosofinya, Mengamalkan Adabnya
Mengapa Manusia Harus Berdoa?
Sebagian
manusia ada yang berpendapat seandainya Allah menciptakan manusia
sedemikian rupa sehingga mereka tidak membutuhkan apa dan siapapun,
dengan demikian manusia tidak lagi menjulurkan tangannya meminta kepada
seseorang atau Allah. Kebutuhan, kemiskinan dan kesulitan yang dihadapi
manusia yang membuatnya melakukan perbuatan rendah dan hina. Kondisi
seperti ini memaksa manusia meminta sesuatu baik kepada orang atau
kepada Allah. Manusia bahkan terkadang siap menjadi budak seseorang
untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Mereka juga tidak segan untuk
membunuh dan menjarah untuk meraih apa yang diinginkannya. Bila Allah
menciptakan manusia tidak membutuhkan sesuatu, maka kebanyakan dari
kezaliman, penjarahan dan pembunuhan tidak akan terjadi.Menjawab pemikiran yang semacam ini harus diperhatikan bahwa yang penting dalam masalah ini adalah makrifat atau pengenalan makhluk akan khalik atau penciptanya. Dalam kajian tauhid telah dibuktikan bahwa hanya Allah Swt yang tidak membutuhkan secara mutlak. Sementara setiap makhluk membutuhkan-Nya dan dalam wujudnya ada yang disebut Faqr Wujudi atau kefakiran ontologi. Menciptakan manusia yang tidak membutuhkan itu artinya menyekutukan makhluk dengan khalik dan ini mustahil terjadi.
Makhluk sebagai makhluk pasti membutuhkan. Tapi kebutuhan atau faqr ontologi yang ada bersamaan dengan hidayah takwini di seluruh makhluk dan hidayah tasyri'i bagi manusia mendorong makhluk mencapai kesempurnaan. Pemberian akal, pengutusan para nabi dan diturunkannya Kitab Samawi merupakan bagian dari kebutuhan manusia. Dalam kondisi inilah doa, permohonan dan kekhusyuan menjadi kebutuhan yang paling tinggi bagi manusia agar dapat terbang bersama akal dan agama melewati jalur Shu'udi, menanjak menuju Zat yang tidak membutuhkan, menjadi seperti "Allah". Manusia akan meraih makrifat dan dengan bertumpu padanya melawan segala keburukan dan kejelekan. Dengan makrifat itu manusia memerangi kezaliman. Manusia bangkit menghancurkan setan dalam diri dan di luar dirinya lalu menawan dirinya dalam penjara ilahi.
Benar, bila hanya ada kebutuhan akan air dan makanan dalam diri manusia dan tidak ada petunjuk lain dalam memilih dan memilah antara racun dan air, maka apa yang dikeluhkan tentang manusia dapat dibenarkan. Tapi yang terjadi adalah Allah Swt dengan pintu rahmat-Nya telah menyiapkan hidayah bagi setiap makhluk.
Sekaitan dengan manusia, Allah telah menganugerahinya dengan akal, mengirim nabi dan menurunkan wahyu. Dengan semua ini, pada hakikatnya Allah telah memenuhi kebutuhan manusia dan juga memberi arah terkait kebutuhannya. Sarana yang diberikan kepada manusia ini memberikannya kemampuan untuk memilih dan memilah antara yang baik dan buruk. Di sinilah hamba Allah yang saleh hanya akan melihat kebutuhannya kepada Allah menjadi kelezatan yang paling puncak. Dari pintu inilah mereka mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah.
Oleh karenanya, bila doa, munajat dan memohon tidak pernah ada, maka tidak pernah ada derajat yang bakal diraih manusia. Dengan demikian, doa menjadi alat pengantar terbaik yang mampu menghubungkan antara pencipta dan makhluk. Mereka yang telah mencicipi manisnya munajat melihat doa itu sebagai pengkabulan doa itu sendiri.
Bila kita realistis, dengan sedikit mencermati, kita akan menemukan bahwa kebutuhan manusia tidak dapat dihitung. Allah Swt Yang Maha Pemurah yang selama ini menganugerahkan apa yang kita butuhkan tanpa meminta kepada-Nya. Pada saat yang sama kita lupa bahwa pemberian tanpa diminta ini justru membuat kita sering berkeluh kesah karena ada keinginan yang menurut kita belum terijabahi.
Ketika kita mengira doa yang kita panjatkan belum dikabulkan, kebanyakan kita justru berharap yang lebih. Oleh karenanya, kita terus melanjutkan doa, sehingga sampai pada satu tahapan kesadaran akan dikabulkan. Kita biasanya berdoa dan memaksa diri kita dengan cara tertentu, padahal diri kita belum siap dengannya. Kita biasa merasakan bahwa doa kita tidak bakal terkabulkan, kecuali berdoa seperti orang yang lebih hebat dari kita.()
Menelisik Kemungkinan Terkabulkannya Doa
Mungkin kita bertemu dengan orang-orang yang menolak doa dan terkabulkannya doa, akibat lemahnya informasi mereka. Orang-orang seperti ini menganggap terkabulkannya doa dari Allah Swt yang Maha Bijaksana kontradiksi dengan hukum alam. Mereka yang tidak meyakini doa dan masalah terijabahinya doa punya argumentasi yang dapat diringkas seperti ini:
1. Hukum alam merupakan sistem yang bijak dan bersandar pada hukum kausalitas.
2. Dalam hukum kausalitas, setiap akibat memiliki sebab khusus.
3. Terkabulkannya doa keluar dari hukum alam dan kausalitas.
4. Menjadikan doa mengambil tempat sebab menciptakan kekuarangan pada hukum alam.
5. Kesimpulannya, terkabulkannya doa dari sisi Allah Swt berarti diterimanya perubahan dalam hukum alam.
Masalah penting dalam pemikiran orang yang seperti ini kembali pada anggapan mereka bahwa doa dan masalah terkabulkannya doa berada di luar dari hukum alam dan kausalitas yang ada di dunia ini. Dengan demikian, bila dapat dibuktikan bahwa doa sendiri merupakan faktor yang berada di bawah hukum alam dan bukan di luar apa lagi bertentangan, maka masalah ini dapat diselesaikan.
Begitu juga harus ada gambaran yang benar tentang alam dan bagaimana terjadinya. Masalah alam ini harus dilihat lebih umum dari alam materi. Sampai sekarang manusia belum mampu membuat garis pembatas bagi dunia, sehingga ada batas normal baginya. Sebaliknya, kita lebih sering mendapatkan para ilmuwan dan pemikir yang terpisah dari spiritual dan metafisik justru mata batinnya terbuka dan meyakini adanya faktor non materi ini.
Bertrand Russel termasuk ilmuwan semacam ini. Setelah bertahun-tahun menentang pada akhirnya ia berkata, "Membayangkan adanya alam non materi yang abadi di balik alam materi merupakan gambaran yang benar. Ketika seseorang mengangkat tangan untuk berdoa dan meminta kepada pencipta alam, hal ini menunjukkan satu hakikat bahwa sistem alam yang ada ini terbuka dengan alam metafisik dan terkabulkannya doa sebagai diagram fenomena sistemik dunia ini yang muncul lewat doa."
Sekaitan dengan hal ini, Allamah Mohammad Taqi Jafari mengatakan, "Allah Swt yang memberikan ciri khas membakar kepada api, juga memberikan kekuatan kepada ruh manusia bila ia melakukan hubungan yang benar dengan kekuatan mutlak Allah Swt, maka keistimewaan ruh manusia yang lebih kuat mampu menghilangkan ciri khas api, yaitu membakar." (Tarjomeh va Tafsir Nahjul Balaghah, jilid 15)
Almarhum Hibah ad-Din Syahrastani mengatakan, "Benar, dunia memiliki sebab dan dunia diciptakan berdasarkan hukum kausalitas. Tapi ada causa prima dan penyebab segala sesuatu yang disebut Allah Saw yang tidak membutuhkan apapun. Selain Allah tidak ada yang disebut sebagai sebab puncak tapi perantara dan bukan sebab sempurna. Al-Quran, Hadis dan akal sehat menjadi bukti bahwa memohon dan berdoa kepada Allah Swt dengan khusyu tidak bertentangan dengan masalah hukum alam, bahkan menjadi bukti bahwa doa merupakan satu perantara dan sebab bagi tercapainya keinginan.
Imam Shadiq as berkata kepada seorang muridnya, "... Berdoalah dan jangan berkata bahwa apa yang ditetapkan itulah yang akan terjadi. Sesungguhnya di sisi Allah Swt ada maqam yang tidak dapat dicapai, kecuali dengan doa. Bila seseorang menutup bibirnya dan tidak berdoa, Allah tidak akan memberikan maqam itu kepadanya. Oleh karenanya, berdoalah agar Allah memberikannya kepadamu... Siapa saja yang banyak mengetok pintu, maka pintu akan dibukakan untuknya. (Ain al-Hayah, Mulla Muhammad Baqir Majlisi)
Ada ruh besar yang mempermudah alam mencapai kesempurnaannya dan membuat manusia meraih maqam yang lebih tinggi. Tapi buat manusia, ketika mencapai satu maqam kesempurnaan, ia semakin takjub dan merasa takut. Ketakutan ini bukan muncul dari rasa kepengecutan, tapi ketakutan dan kebingungan di hadapan keagungan Allah Swt. Ketakutan ini hanya akan dapat dirasakan oleh hati yang memiliki potensi memahami. Orang-orang yang telah memperluas inderanya sedemikian rupa sehingga mencapai dinding akhir dari alam dapat merasakan hal ini. Itulah mengapa kita menyaksikan Rasulullah Saw berharapa agar Allah menambahkan kebingungan yang berasal dari makrifat ini kepada-Nya. Ketakutan ini disebabkan pengenalan dengan keagungan Allah. Sementara ketakutan tanpa pengenalan ini adalah kebodohan yang muncul dari dosa dan kesesatan.
Setiap kali seseorang berdoa dan setiap kali hati dengan bermunajat akan bersambung dengan pusat keagungan dunia. Setelah itu seorang yang berdoa harus mempertahankan pengaruh dari hubungan ini dalam setiap dimensi kehidupannya dan di setiap hubungan kehidupan sehari-harinya bagi bagi dirinya, keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, doa perlahan-lahan menjadi semacam sebuah profesi jiwanya. Ini akan semakin meluas dan bersatu dengan seluruh jiwa dan keberadaannya.
Doa bukan satu-satunya wasilah untuk mendapatkan kebutuhan kita, tapi doa dengan sendirinya manifestasi cinta. Banyak hal yang tidak dapat dipahami dengan sains dan filsafat, tapi dengan mudah dapat diraih dengan cinta. Semuanya menjadi selesai ketika jiwa bergabung bersama yang dicintai disertai keikhlasan dan mengosongkan diri dari selain yang dicintai.()
Doa; Penghancur Kesombongan dan Egoisme Manusia?
Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang mampu menentang kekuasaan Allah Swt yang Maha Sempurna. Zat yang telah memberikan kunci segala urusan dan peristiwa kepada manusia. Pada saat yang sama, Allah telah menciptakan manusia sedemikian rupa untuk meminta kepada-Nya agar banyak hal dapat terwujudkan. Imam Ali as berkata, "Allah Swt telah memberikan khazanah langit dan bumi kepadamu. Karena Dia memberikanmu kesempatan untuk meminta dan berdoa kepada-Nya."
Oleh karenanya, manusia harus mencamkan bahwa doa adalah permintaan, kehendak hati dan fitrah manusia. Imam Khomeini ra menyebut doa sebagai permintaan dengan lisan potensi. Beliau meyakini bahwa anugerah Allah itu sempurna bahkan di atas kesempurnaan. Bila anugerah itu tidak nampak, maka itu berarti penerima tidak memiliki potensi dan kesiapan untuk menerimanya.
Lalu pertanyaan yang muncul, mengapa manusia membutuhkan doa?
Sebagai jawabannya harus dikatakan ada sebab dan faktor-faktor untuk menguraikan masalah ini.
Yang paling penting adalah berdoa itu merupakan kebutuhan fitrah manusia itu sendiri. Manusia secara fitrah memuji kebaikan dan menerima keindahan. Manusia di hadapan keindahan dan kesempurnaan mutlak langsung tidak sadarkan diri. Karena hati dan lisannya sibuk memuji keindahan itu.
Di seluruh tahapan kehidupan manusia harus diperhatikan bahwa setiap saat manusia berada dalam ujian. Oleh karenanya, setiap saat manusia juga harus berdoa kepada Allah agar ia lulus dalam ujian ini.
Mekanisme doa dapat menghancurkan atau melemahkan kesombongan manusia. Karena Allah Swt dalam al-Quran menyebut manusia yang tidak berdoa sebagai sombong dan merasa dirinya besar. Allah Swt berfirman, "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina"." (QS Ghafir: 60)
Allah Swt telah memberikan ikhtiar khusus kepada manusia demi berlanjutnya hubungan-Nya dengan hamba-hamba-Nya. Bila kita ingin mendefinisikan ikhtiar ini, maka harus disebut kepemilikan atas kunci segala khazanah ilahi. Dengan kata lain, doa pada dasarnya sair suluk manusia yang berusaha untuk mengenal kembali dirinya dan menyingkap kekuatan tak terhingga yang tersembunyi dalam ruh manusia.
Berdasarkan pendapat mayoritas ulama dan filosof, ketika seseorang berdoa dan meminta sesuatu, dalam kondisi ini otak manusia lebih fokus kepada apa yang dimintanya dan dengan konsentrasi yang ada itu, maka apa yang diinginkannya itu menjadi penting dan spesial baginya.
Dengan demikian, ketika seseorang berdoa dan tidak dikabulkan, maka sudah pasti ada sebabnya. Penyebabnya adalah ketika manusia memikirkan dan berdoa akan satu masalah pada saat yang bersamaan ia melakukan konsentrasi pada masalah itu. Artinya, pemikiran apa saja yang terlintas di kepala manusia waktu itu, pada dasarnya itulah pemikiran yang menjadi landasan kehidupan sehari-harinya.
Sebagai contoh, bila kita meletakkan energi kehidupan kita pada satu keyakinan bahwa saya tahu doa yang saya panjatkan tidak akan dikabulkan, maka sudah pasti hal itu yang akan terjadi. Karena manusia memusatkan perhatiannya pada kekurangan ini. Energi yang didapatkannya adalah sesuatu yang dibuang oleh alam semesta. Dalam agama Islam, keyakinan ini dijelaskan dengan ungkapan yang lain. Ketika manusia mengatakan bahwa saya yakin bahwa doa yang saya panjatkan tidak akan dikabulkan, maka cara berpikir ini adalah dikte dari setan. Putusnya harapan yang ditunjukkannya itu membuatnya gagal.
Dengan demikian, dua model pemahaman dari ungkapan itu sama saja. Bedanya, yang pertama dibuktikan lewat sains dan yang kedua menurut riwayat. Mayoritas filosof Barat juga sampai pada kesimpulan ini bahwa seluruh doa dan permintaan manusia kepada Allah Swt semuanya berasal dari energi yang berasal dari pemikiran orang yang berdoa itu.
Dalam riwayat disebutkan bahwa bila waktu pengijabahan doa berlangsung lama atau terlambat, maka bagi orang yang berdoa akan mendapat pahala yang lebih banyak. Di sisi lain, hal itu akan membuat dirinya lebih dekat dengan Allah Swt. Dengan demikian, dalam kondisi ini yang kita saksikan adalah persahabatan Allah dengan hamba-Nya.
Berdoa merupakan satu dari kebutuhan fitrah manusia; baik itu muslim atau bukan. Kebutuhan ini dilakukan oleh manusia tanpa disadari, tapi tentu saja terkabulkannya doa itu sesuai dengan maslahat yang ada pada ilmu Allah. Artinya, tujuan dari doa itu sendiri bukan terkabulkannya doa, tapi doa hanya menjadi alasan untuk menjalin hubungan dan kedekatan.
Pada hakikatnya, doa merupakan hubungan kehadiran dan tanpa perantara antara hamba dan pencipta. Berdoa dan meminta kepada Allah Swt sejatinya realisasi tauhid, pengetahuan tunggal dan perasaan kehadiran Allah.()
Mengapa Sebagian Doa Kita Tidak Dikabulkan?
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berkali-kali menemui pertanyaan seperti ini, mengapa Allah Swt tidak mengabulkan doaku? Atau terkadang manusia bertanya-tanya mengapa dirinya masih hidup dalam kemiskinan, padahal ia telah berdoa agar mendapat rezeki dari Allah Swt.
Coba kita melihat ungkapan di atas secara jujur. Apakah Allah Swt tidak mengabulkan doa orang yang sangat membutuhkan? Bukankah Allah Swt telah berjanji akan mengijabahi permintaan setiap orang yang memohon kepada-Nya? Lalu mengapa sebagian doa tidak dikabulkan?
Pengaduan seperti ini biasanya lebih sering datang dari mereka yang menggantungkan hatinya kepada Allah Swt dan menyampaikan permohonan lewat lisannya. Karena ada beberapa faktor berikut yang membuat mereka biasanya menyampaikan pengaduan sepert ini:
Pertama, mereka mengetahui bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berdoa, sekaligus berjanji akan mengabulkannya. Sesuai dengan firman Allah Swt, "... Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ..." (QS. Ghafir: 60)
Kedua, mereka juga mengetahui bahwa Allah Swt jujur saat berjanji dan pasti melaksanakan janjinya. Karena Allah Swt berfirman, "... Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji." (QS. Ali Imran: 9)
Ketiga, mereka memahami satu kenyataan dalam diri mereka bahwa hanya Allah Swt yang layak menjadi tempat memohon. Karena mereka mengetahui bahwa Allah sebagai sumber segala sesuatu dan kembalinya segala sesuatu kepada-Nya. Allah Swt Maha Pemurah dan Pemberi yang tiada bandingannya. Itulah mengapa mereka hanya merujuk kepada-Nya.
Bila mencermati kembali pengaduan manusia ini, kita akan mendapati ungkapan sebagian doa mereka, dan bukan seluruhnya. Ini menunjukkan bahwa kesadaran mereka pada tiga penjelasan sebelumnya. Tapi sayangnya manusia dengan semua indera dan kessadaran yang dimiliki ternyata masih sering lalai akan banyak hal. Lewat kelalaian dan kebodohan inilah mereka bertanya kepada dirinya atau orang lain mengapa sebagian doanya tidak dikabulkan oleh Allah Swt.
Mereka harus tahu bahwa:
1. Ketika kita meyakini bahwa Allah Swt Maha Kuasa dan kita memohon bantuan lewat kekuasaan-Nya, maka pada saat yang sama kita harus meyakini juga bahwa Allah Swt Maha Bijaksana.
Kebijakan Allah Swt terkait dengan segala urusan dan pemahaman manusia pada awalnya sulit memahami hal ini. Seorang anak pada awalnya benci dengan adanya pekerjaan rumah. Ia lupa bahwa bila kesulitan seperti ini tidak ada, ia tidak bisa lebih dari yang ada saat ini. Anak kecil melihat pekerjaan rumah sebagai sesuatu yang buruk dan memandang waktu kosong sebagai kebaikan. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Al-Quran dalam surat al-Baqarah ayat 216 menyebutkan, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Dengan demikian, seharusnya kita memperhatikan satu masalah ini juga. Karena sebagian dari doa yang tidak diijabahi oleh Allah Swt pada dasarnya itu sudah merupakan ijabah doa itu sendiri.
2. Doa juga bermakna meminta dan diminta.
3. Tidak baik bersikap tergesa-gesa. Sebagian dari permohonan kita membutuhkan waktu dan sekalipun Allah Swt telah mengijabahi doa itu, tapi dalam realisasinya membutuhkan waktu.
Ishaq bin Ammar mengatakan, "Saya bertanya kepada Imam Shadiq as, ‘Mungkinkan doa seseorang diijabi, tapi realisasinya terlambat dan dampak dari terkabulkannya doa itu muncul di suatu waktu?' Imam Shadiq as menjawab, ‘Benar, boleh jadi doa itu terealisasi satu hingga 20 tahun kemudian."
Dengan mencermati riwayat seperti ini dapat dipahami bahwa ijabah atau terkabulkannya sebuah doa itu berbeda dengan terealisasinya. Oleh karenanya, betapa banyak doa sudah terijabahi, tapi realisasinya masih membutuhkan waktu.()
Adab Berdoa Berdasarkan Hadis
Ketika manusia menghadap Allah Swt dengan segala keagungan dan kekuasaan-Nya, ketika manusia menghadapi kesulitan dan kemiskinan, dan ingin mengetuk pintu rahmat Allah memohon nikmat-Nya yang tak terhingga, maka ia harus menghias dirinya dengan tata krama khusus. Hal ini disebut dengan adab berdoa.
Ada berdoa dalam hadis dapat dikelompokkan dalam tiga bagian:
1. Adab sebelum berdoa
2. Adab ketika berdoa
3. Adab setelah berdoa
Dengan memanfaatkan ayat al-Quran dan hadis kita mengulas lebih jauh tentang tiga adab berdoa ini.
Adab sebelum berdoa
Sebelum berdoa ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh manusia:
1. Menjauhi makanan haram
Nabi Muhammad Saw bersabda, "Barangsiapa yang selama 40 hari memakan barang halal, Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya."
Dalam hadis yang lain Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa yang ingin doanya dikabulkan oleh Allah, maka makanan dan pekerjaannya harus halal."
2. Berbaik sangka kepada Allah
Banyak ayat al-Quran yang memerintahkan manusia untuk menyandarkan dirinya hanya kepada Allah seperti , "... Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya ..." (QS. at-Talaq: 3)
Dengan kepercayaan penuh kepada Allah Swt inilah Imam Shadiq as berkata, "Setiap kali engkau berdoa, maka harus menganggap bahwa hajatmu bakal dikabulkan."
3. Memberi sedekah
Nabi Muhammad Saw bersabda, "Sedekah yang diberikan seorang mukmin belum sampai ke tangan peminta, tapi sedekah ini telah sampai di tangan Allah Swt." Setelah itu Rasulullah Saw membaca ayat ini, "Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?" (QS. at-Taubah: 104)
Dalam al-Quran Allah Swt memerintahkan orang-orang yang beriman di zaman Nabi Muhammad Saw untuk mengeluarkan sedekah sebelum berbicara dengan Rasulullah Saw. Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al-Mujadilah: 12)
4. Memakai wangi-wangian
5. Pergi ke masjid atau menghadapi kiblat
Diriwayatkan bahwa Imam Shadiq as ketika ingin berdoa di waktu Zuhur, pertama beliau memberikan sedekah dan memakai wangi-wangian dan pergi ke masjid dan berdoa di sana.
6. Berwudhu
Imam Shadiq as berkata, "Barangsiapa yang berwudhu dengan baik, melakukan shalat dua rakaat dengan ruku dan sujud yang benar lalu mengucapkan salam dan setelah itu berdoa dengan terlebih dahulu mengucapkan shalat kepada Rasulullah Saw dan keluarganya ..."
Adab ketika berdoa
1. Mengucapkan Bismillah di awal doa
2. Mendahulukan pujian kepada Allah sebelum berdoa
3. Mendahulukan shalawat sebelum berdoa
4. Mengakui dosa yang dilakukan
5. Meminta ampun atas dosa yang dilakukan
6. Bertawasul kepada Maksumin
7. Perhatian akan doa yang dibaca
8. Khusyu dan rendah hati dalam berdoa
9. Menyebutkan hajat dalam berdoa
10. Berdoa di tempat sepi
11. Doa bersifat umum
12. Berdoa bersama-sama
13. Mendahulukan orang lain dari diri sendiri
14. Mengangkat tangan ketika berdoa
15. Berdoa dalam sujud
16. Ngotot saat berdoa
17. Perlahan-lahan dalam berdoa
18. Mendoakan orang yang tidak ada
19. Menangis
Hendaknya umat Islam dengan mengikuti al-Quran, Nabi Muhammad Saw, Maksumin as dan ulama dalam segala perbuatan, tidak terkecuali dalam berdoa. Kesibukan manusia mengurusi kehidupan setiap hari terkadang membuat manusia melupakan Allah Swt. Kenyataan ini tanpa disadari manusia melupakan keberadaannya sendiri. Oleh karenanya, memulai pekerjaan dengan Bismillahirrahmanirrahim dapat menumbuhkan dan melindungi pemikiran tauhid dalam diri manusia.
Imam Shadiq as berkata, "Setiap pekerjaan yang tidak dimulai dengan Bismillah tidak akan sampai pada kebaikan."
Nabi Saw bersabda, "Doa yang tidak dimulai dengan Bismillah akan tertolak."
Imam Shadiq as berkata, "Setiap kali engkau ingin berdoa, hal pertama yang harus engkau lakukan adalah memuji keagungan Allah dan bertasbih kepada-Nya, setelah itu mengucapkan shalawat kepada Muhammad Saw dan keluarganya dan pada waktu itu sampaikan hajatmua kepada Allah Swt."
Ketahuilah bahwa sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa sudah selayaknya orang yang berdoa ketika memuji Allah Swt hendaknya menyebut Asma al-Husna.
Dalam al-Quran disebutkan, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. al-Ahzab: 56) Sesuai dengan ayat ini, setiap Muslim punya kewajiban untuk menyampaikan salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw.
Imam Shadiq as berkata, "Berusahalah mengucapkan pujian kepada Allah Swt sebelum menyampaikan hajat baik dunia dan akhirat. Setelah itu menyampaikan shalawat kepada Nabi Saw dan keluarganya, kemudian mengakui dosa yang dilakukan baru mulai memohon hajatmua kepada Allah Swt.()
Adab Berdoa; Dari Membaca Shalawat Hingga Mengusap Tangan ke Wajah
Imam Shadiq as berkata, "Setiap orang yang memiliki hajat, maka langkah pertama yang harus dilakukannya adalah mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya. Setelah itu ia meminta hajatnya kepada Allah Swt dan menutup doanya dengan mengucapkan shalawat lagi kepada Muhammad dan keluarganya. Karena Allah Swt sedemikian pemurahnya dan hanya akan menerima awal dan akhir doa, tapi tidak menerima bagian tengah dari doa seseorang. Artinya, shalawat kepada Muhammad dan keluarganya dapat menghilangkan tabir dan halangan terkabulkannya doa." (Iddah ad-Da'i, hal 211)
Dalam hadis lain Imam Shadiq as berkata, "Siapa yang berdoa dan tidak menyebut nama Nabi Muhammad Saw, maka doa tadi berada dan berputar di atas kepalanya. Ketika ia menyebut nama Nabi Muhammad Saw, doa itu langsung menuju ke atas." (Ushul al-Kafi, jilid 4, hal 248)
Almarhum Majlisi mengatakan, "Pendapat masyhur menyebut shalawat dari Allah Swt adalah rahmat, dari malaikat sebagai permintaan ampunan dosa dan dari hamba merupakan doa. Sementara dalam makna "Al" atau keluarga dalam pandangan Syiah adalah Itrah Tahirah dan keluarga maksum Nabi Saw. Pernyataan Syahid Tsani bahwa keluarga itu terbatas hanya pada Imam Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as tidak punya dalil. Sementara dalam pandangan Ahli Sunnah perbedaan pendapat sangat luas.
Sebagian mengatakan bahwa Alu an-Nabi atau keluarga Nabi Saw adalah semua umat, sebagian lagi menyebut famili dan yang lain menyebut keluarga Nabi Saw adalah Bani Hasyim dan Abdul Mutthalib. Karena mengambil zakat dari mereka adalah haram. Tapi semua sepakat bahwa doa tanpa shalawat tidak diterima. (Ain al-Hayah)
Mengusap wajah setelah berdoa
Imam Shadiq as berkata, "Tidak ada seorang hamba yang mengangkat tangannya memohon kepada Allah Swt, melainkan Allah Swt pasti merasa malu membiarkannya kembali dengan tangan kosong tanpa mendapat keutamaan dan rahmat Allah. Oleh karenanya, setiap kali kalian berdoa, jangan sekali-kali menurunkan tangan sebelum mengusapkannya ke wajah. (Ushul al-Kafi, jilid 4, hal 247)
Ucapkan Masya Allah ... setelah berdoa
Imam Shadiq as berkata, "Setiap kali seorang hamba berdoa dan setelah menyampaikan hajatnya hendaknya ia mengucapkan ‘Masya Allah Laa Haula Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata Billah Al-Aliy Al-Azhim'. Bila hal itu dilakukannya, maka Allah Swt akan berfirman, "Hambaku telah memutuskan harapannya dan pasrah dengan perintah-Ku. Oleh karenanya, Aku akan mengabulkan hajatnya."
Jangan berbuat dosa
Dari Imam Shadiq as diriwayatkan, "Bila kalian benar-benar menaati apa yang diperintahkan oleh Allah Swt, maka setiap permohonan kalian pasti dikabulkan-Nya. Tapi kalian melakukan maksiat dan menentang-Nya. Oleh karenanya, Allah Swt tidak mengijabahi doa kalian."
Jangan berhenti berdoa
Nabi Muhammad Saw bersabda, "Semoga Allah Swt merahmati hamba yang memohon kepada Allah dan bersikeras agar Allah mengabulkan permintaannya, baik itu diterima atau tidak."
Nabi Saw kemudian membaca surat Maryam ayat 48, "... Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku."
Imam Shadiq as berkata, "Allah Swt mencintai seorang hamba yang ngotot dalam berdoa agar doanya dikabulkan."()
12 Kelompok Manusia yang Pasti Dikabulkan Doanya
Terkadang ada maslahat yang tercipta lewat doa. Tanpa doa maslahat itu tidak akan ada. Yakni, doa dapat menciptakan maslahat dan sekaligus terkabulkannya hajat. Bila ada maslahat dan maslahat terkabulkannya doa terletak pada semakin cepatnya doa itu diijabahi, maka doa akan menjadi penyebab semakin cepatnya hajat dikabulkan.
Tapi bila ada maslahat dan hajat yang disampaikan tertunda, maka pada hakikatnya doa yang membuatnya tertunda sampai saat itu. Dengan kesabaran menanti hingga terkabulkannya hajat, seseorang mendapat pahala yang lebih banyak. Bila dalam pengkabulan sebuah doa ada keburukan, maka Allah Swt akan mencegah terjadinya keburukan itu.
Tidak ada doa yang tidak dikabulkan, bahkan doa yang disampaikan oleh seseorang dan tidak sesuai dengan maslahat dirinya.
Doa adalah sarana untuk menyingkap sebagian potensi kebaikan atau menghilangkan sejumlah dosa. Tapi berdasarkan sebagian riwayat menyebutkan siapa saja orang yang berdoa dan memohon sesuatu dari Allah lalu doanya dengan cepat dikabulkan.
Manusia memiliki dua kewajiban penting terkait orang-orang yang doanya cepat dikabulkan; makrifat dan penghormatan. Yang pertama adalah mengetahui derajat dan faktor yang menyebabkan mereka mendapat tempat yang dekat di sisi Allah Swt. Sementara kewajiban kedua adalah menghormati dan menjadikan mereka sebagai rujukan. Apa saja faktor yang membuat mereka dicintai oleh Allah Swt. Mencintai pawa wali Allah dengan sendirinya merupakan bagian dari kecintaan kepada Allah dan menjadi sarana konstruktif untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Dalam buku Ushul al-Kafi ada tema berjudul "Man Tustajabu Da'watuh", siapa saja yang doanya dikabulkan. Sesuai dengan hadis-hadis yang dibawakan dalam tema ini, orang-orang yang doanya mustajab adalah:
1. Seseorang yang pergi haji
2. Seseorang yang jihad di jalan Allah
3. Seseorang yang sakit
Imam Shadiq as berkata, "Ada tiga kelompok manusia yang doanya dikabulkan; Orang yang pergi ke haji dan perhatikan bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang ditinggalkannya. Kedua orang yang berjihad di jalan Allah dan perhatikan bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang ditinggalkannya. Ketiga orang yang sakit dan jangan membuatnya marah dan sakit hati."
4. Imam yang adil
5. Doa orang yang dizalimi
6. Doa anak saleh untuk orang tuanya
7. Doa ayah yang saleh untuk anaknya
8. Doa seorang mukmin untuk saudaranya
Imam Shadiq as berkata, "Ayahku berkata, ‘Lima doa yang pasti dikabulkan Allah Swt; Doa imam yang adil, doa orang yang terzalimi, dimana Allah Swt berfirman, "Saya akan membalas dendam terhadap orang yang zalim, sekalipun telah lewat waktunya, doa anak saleh untuk orang tuanya, doa ayah saleh untuk anaknya dan doa seorang mukmin untuk saudaranya, Allah Swt berfirman, ‘Dan untukmu sepertinya', engkau mendapatkan sama seperti yang didoakan kepadanya."
Dalam riwayat lain Imam Shadiq as sangat menekankan kutukan orang-orang yang dizalimi dan ayah. Imam Shadiq as berkata, "Takutlah akan doa orang yang dizalimi yang dapat naik ke atas mencapai Allah Swt menembus halangan awan dan tabir. Allah Swt berfirman, ‘Naikkan doa itu agar Aku mengijabahinya', dan takutlah akan kutukan seorang ayah, karena doanya lebih tajam dari mata pedang."
9. Seseorang yang mendoakan 40 orang mukmin sebelum berdoa untuk dirinya. Hisyam bin Salim menukil dari Imam Shadiq as yang berkata, "Setiap orang yang berdoa untuk 40 orang mukmin sebelum mendoakan dirinya dan setelah itu berdoa untuk dirinya, maka doanya pasti dikabulkan."
10. Doa orang yang berpuasa hingga berbuka
11. Doa orang yang berumrah hingga kembali ke daerahnya
12. Doa seseorang orang lain yang tidak ada di tempatnya
Imam Shadiq as menukil dari Rasulullah Saw bersabda, "Tidak ada doa yang lebih cepat dikabulkan oleh Allah Swt dari doa orang yang tidak ada di tempat untuk orang lain yang tidak ada di tempatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
















